Tuesday, 26 November 2013

Hujan

Banyak dari antara kita yang pasti mencintai hujan. Aku, salah satunya. Entah mengapa, hujan selalu terasa menenangkan untukku. Guntur, petir, dan kilat yang biasanya cenderung menakutkan, justru kutunggu dengan bersemangat. Tetesan air hujan yang deras mengalir kemudian membasahi tanah-tanah kering menjadi pemandangan yang sangat menyenangkan untuk dinikmati dengan ditemani secangkir teh manis hangat.

Aku beringsut bangun dan mendekat ke jendela di samping tempat tidurku. Lampu kamar sengaja tidak kunyalakan, sebaliknya, jendela kubuka lebar-lebar. Ah, untung papa sudah memasangkan atap kecil di atas jendelaku, sehingga aku bisa leluasa memandangi hujan tanpa takut ranjangku akan kebasahan. Masih sambil berselimut, aku mengeluarkan sebelah tanganku, mencoba menggapai bulir-bulir hujan yang mulai membasahi Anggrek-Anggrek mama.

source

Mendung masih menggelantung. Awan-awan gelap kehitaman memenuhi langit, membuat mataku tidak mau berkedip menatap keindahan cakrawala yang terpampang jelas di depan mata. Petrichor menyapa indra penciumanku, dan segera kuhirup dalam-dalam aroma yang sangat familiar itu. Entah sejak kapan, hujan menjadi teman baikku hingga sekarang.

Angin bertiup menerobos masuk ke kamar dan menyapa kulitku yang hanya dibalut selembar piyama tipis. Kakiku dilindungi oleh selimut, namun tak urung, dingin mulai terasa di seluruh tubuhku. Tapi aku memutuskan untuk bertahan. Membiarkan jendela terbuka lebar karena tidak ingin kehilangan momen yang selalu aku tunggu setiap harinya. Aku menggigil sejenak. Lucunya, entah kenapa, walaupun sekujur tubuhku seperti berteriak kedinginan, hatiku justru menghangat seiring semakin derasnya titik-titik air yang turun dari langit.

Hujan seperti datang untuk mengingatkanku pada kata-kata papa. Bahwa dalam hidup, tidak selamanya matahari akan selalu bersinar cerah. Ada masanya, matahari akan tertutup oleh awan yang sangaaaaat gelap. Waktu di mana mereka jatuh ke dalam sebuah masalah, atau konflik kehidupan. Manusia pada umumnya, akan bergerak mencari-cari matahari. Mengeluh mempertanyakan di mana matahari dan kapan mereka akan kembali.

Mereka lupa, masih ada hujan. Papa mengajarkan padaku untuk mencintai mendung dan awan-awan gelap. Mencintai setiap lembah-lembah suram dalam kehidupanku. Memeluk setiap konflik dan masalah yang terkadang datang. Dan terutama, untuk belajar menari di antara derasnya hujan.

Aku tersenyum singkat. Rasanya aku mulai mencintai kejadian alam yang indah ini. Literally.


Life isn't about waiting the storm to pass. It's about learning to dance in the rain.
-Unknown

14 comments:

  1. aku juga cinta hujan. dulu. sebelum "sang sumber cahaya itu pudar" dan tak bisa lagi menghangatkanku. :'( *curcol*

    he's my Daddy, anyway. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. *peluk yang kenceng*

      Dia masih ngejagain dan ngedoain kamu kok dari atas sana :)

      Delete
  2. Saarrr.. nick name ku dari misua : si gadis hujan -sangking senengnya aku sama hujan..

    Ternyata anak2ku (#mengakuuzur) juga demikian lho..

    Buat kami, hujan itu menyejukkan hati dan melenakan jiwa #halah..

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihi. Lucu banget sih teh, ngiri deeeeh :>

      BETUL BETUL aku setujuuuu :D

      Delete
    2. padahal gadishujan sudah tak 'gadis' lagih.. hihihi..
      Hujan okeh, tapi tanpa petir ya darling bebih.. hihihi..kalo ada petir..akik lgs ngumpeeett.. :D

      Delete
    3. Aku juga suka langsung lari ke pelukan pacar kalo lagi ada petir :p

      Delete
  3. Kebalikannya, aku malah benci hujan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. wuah >.<

      kenapa kak?

      Pernah batal ngedate gegara ujan ya? :>

      Delete
    2. Alasannya ada di: http://backpackstory.me/2013/11/22/hangatnya-matahari-puerto-princesa/ dan study casenya ada di: http://backpackstory.me/2013/11/26/bad-day-pasti-berlalu/ #EAAA

      Delete
    3. dia promosi lho (--,)v

      hahahaha :D

      Delete
  4. hujan enaknya buat tidur loh hehehe :D

    ReplyDelete