Tuesday, 12 November 2013

a Letter for Lucas

Dear Lucas,

Hei. Apa kabar?

Baru satu minggu yang lalu kita bertemu dan sekarang aku sudah sangat merindukan pelukan eratmu. Pelukan yang biasanya kamu berikan sambil menggelitiki pinggangku sampai aku tertawa geli dan kamu akan semakin mempererat tanganmu yang sedang mengelilingi pinggangku. Ah, rasanya aku masih bisa mencium aroma tubuhmu. Mungkin karena kaosmu yang kudekap semalam suntuk untuk menemani basahnya mataku.

Tahu tidak? Hari ini aku pergi ke kedai kopi kesukaanmu. Semuanya masih sama seperti seminggu yang lalu. Ingat pelayan kikuk yang selalu mengulang membaca pesanan kita berkali-kali? Ia masih melayaniku tadi. Oh ya, ia juga menanyakan bagaimana kabarmu dan mengapa kamu tidak terlihat bersamaku. Aku hanya tersenyum dan bilang bahwa kamu baik-baik saja. Mungkin ia heran, karena selama ini aku tidak pernah datang sendirian ke sana, tidak seperti hari ini.


Aku juga memesan secangkir hot Caramel Latte dan secangkir hot Earl Grey tea. Petugas kasir sampai menatapku bingung karena aku memesan dua cangkir sekaligus, padahal aku hanya seorang diri. Tapi aku tidak menghiraukan tatapannya, kemudian membawa kedua cangkir itu ke mejaku. Sampai Earl Grey tea-ku habis dan Caramel Latte-mu kehilangan asapnya kemudian menjadi dingin, aku masih tetap sendirian. Sempat beberapa kali aku mengirimkan sms memintamu untuk datang menemaniku, tapi tidak berbalas. Sepertinya benar, kamu masih dalam perjalanan. Entahlah, kan kamu tidak berpamitan.

Dari kedai kopi, aku menuju ke sebuah taman tempat aku pertama kalinya menjadi model pribadi-mu. Ingat tidak? Kamu meminta bantuanku untuk mengisi portofolio-mu. Ah, sejak dulu kamu selalu bilang, aku terlihat lebih cantik melalui lensa kamera. Dan aku selalu merengut manja kemudian bertanya, "berarti sebenernya aku jelek?" Lalu kamu akan menjawil hidungku sambil berbisik, "aslinya nggak boleh cantik-cantik, nanti banyak yang naksir." Hahaha. Kamu memang selalu iseng begitu. Kalau dulu aku sering kesal, sekarang justru kangen. Kangen semua keusilanmu. Kangen seseorang yang selalu memintaku menebak siapa yang sedang menutup mataku saat kamu baru datang untuk bertemu denganku, kangen seseorang yang selalu merangkulku dengan tangan kirinya, kangen seseorang yang selalu protes karena aku menganggap sama pelukan dan rangkulan, kangen seseorang yang suka mencium rambutku waktu kita sedang mengantri tiket. Aku kangen kamu. Tapi saat aku mengutarakannya, kamu cuma bisa membisu. Entah karena merasakan hal yang sama, atau karena kamu juga sama putus asa-nya tentang jarak yang memisahkan kita.

Sebal rasanya mengingat kamu yang dulu selalu cerewet, mendadak jadi pendiam dan dingin seperti ini. Tanpa alasan. Bahkan kamu juga diam setiap kali aku bertanya. Telponku tidak pernah diangkat, pesan-pesanku juga tidak pernah berbalas. Lalu aku harus mencari siapa lagi saat aku merindukan dirimu?

Maaf ya, karena aku menangis lagi, kaos-mu jadi basah. Aku masih bersyukur diam-diam mencuri sepotong kaos dari tempat pakaian kotormu. Aku ingin bertemu, ingin kamu mengunjungiku sedetik setelah aku mengeluh betapa aku kangen kamu, seperti dulu. Aku ingin didekap erat, dengan ujung bibirmu menempel di unyeng-unyengku. Hihi. Unyeng-unyeng. Bahasamu untuk ujung kepala seseorang. Sesaat setelah aku mengerutkan kening mendengar kata asing itu, bibirmu mendarat di sana kemudian menyunggingkan senyum usil khasmu sambil berujar, "tuh, di situ namanya unyeng-unyeng!"

Sampai kapan sebuah kaos dapat menjadi tempat aku berlari? Sampai kapan sepotong kain mampu bertahan menjadi pengganti dadamu-tempat aku menangis? Sampai kapan aku harus meminta hatiku bersabar dengan sekelebat aroma khasmu ketika aku kesepian? Sampai kapan aku harus menunggu untuk bisa memelukmu dengan kedua lenganku, bukan dengan tatapan pada gambar?

Kamu selalu ceria. Lucu dan jenaka. Pendengar yang baik. Teman curhat yang paling aku sukai. Pelukanmu selalu hangat. Pun setelah kita bertengkar hebat. Dadamu selalu menjadi tempat teramanku untuk bersandar dan menumpahkan air mata. Bahkan aku pernah tertidur di sana karena kelelahan menangis. Sela-sela jemarimu... akan selalu menjadi satu-satunya yang mampu melengkapi milikku.

Kalau aku bisa memutar waktu dan memperbaiki semuanya, maukah kamu kembali ke sisiku? Masih maukah kamu duduk bersamaku, berlama-lama merajut mimpi berdua? Kalau Tuhan mengijinkanmu untuk mengunjungiku biarpun sebentar, apakah kamu akan mengambil kesempatan itu? Apakah kamu juga merindukanku?

Seminggu yang lalu, untuk terakhir kalinya aku melihat wujudmu. Kamu telah berubah menjadi seseorang yang sangat berbeda. Kamu berubah menjadi dingin dan pendiam. Kamu kehilangan seluruh sinar dan kejenakaanmu. Kamu bertransformasi menjadi sosok dengan mata tertutup yang tidak lagi menjawab saat aku menegur, bahkan menjerit memanggil namamu. Tidak ada rangkulan pun ciuman hangat ketika aku mencoba menggelitiki pinggangmu. Atau lehermu. Kamu tetap diam. Tidak bergeming. Tidak bergerak ataupun beranjak dari tempat pembaringanmu. Bahkan kamu pasrah saat mereka mulai menimbunmu dengan tanah.

Kata mama, kamu sedang berada dalam perjalanan menuju ke sebuah tempat yang tidak mungkin lagi kujangkau. Itukah sebabnya kamu belum membalas enam surat-suratku? Karena kamu masih ingat kata-kataku, untuk tidak membalas pesan atau bermain ponsel saat kamu sedang berada di jalan?

Aku kangen kamu. Cepat sampai dan balas suratku, atau... kamu begini karena mau aku yang menyusulmu?

Love,


Anina

source

2 comments:

  1. Gue kira beneran, pas ngeliat tag-nya, oh cerpen..

    Keren nih hehehe..

    ReplyDelete
    Replies
    1. aaaargh amit-amit jangan pernah sampe jadi beneran :(

      takut. *ketok2 meja*

      Delete