Friday, 4 October 2013

#JanganLupaMakasihnya!

Inspirasi postingan ini gue dapet tadi pagi, saat TransJakarta (TransJakarta ya, bukan Busway! >.<) yang gue tumpangi sudah sampai di Halte Karet, pertanda waktunya gue turun dan segera mengejar angkot yang menunggu untuk mengantarkan gue sampai ke kantor. Gue yang berdiri di ruangan perempuan agak dalam, berusaha menerobos kerumunan orang yang lumayan memadati isi bus. Dalam hati sempat berujar, untung yang turun di Karet banyak, seenggaknya busnya pasti berhenti agak lama, lah. Jadi gue nggak mungkin ketinggalan.

Gue antri untuk menunggu giliran gue 'menyeberang' ke halte. Terpaksa pelan-pelan, kalau buru-buru, salah-salah kejeblos di ruas antara bus dan haltenya. Ketika giliran gue tiba, gue tersenyum dan mengucapakan terima kasih singkat kepada penjaga bus. Doi, dengan muka yang masih mengantuk, balas tersenyum dan membalas, "Sama-sama mbak. Hati-hati di jalan."

-

Mengucapkan terima kasih kepada mereka yang secara tidak langsung membantu kita, belakangan ini, sering kali terlupakan. Atau lebih parah, dianggap tidak lagi perlu. Berkilah dengan, "itu kan udah tugasnya.", atau terlalu terburu-buru untuk melafalkan dua kata singkat itu. Atau satu malah, kalau cuma 'makasih'.

Padahal, di TransJakarta contohnya, secara nggak langsung, mas-mas / mbak-mbak yang nangkring deket pintu itu ngejagain kita lho. Kelihatannya enggak, karena kita dalam posisi baik-baik aja. Coba hp salah satu dari kita dicopet di dalem bus. Akan kelihatan sekali peranan mereka yang setelah mendengar jeritan orang yang merasa dicopet, langsung sigap menutup kembali semua pintu, kemudian melakukan penggeledahan sampe hpnya ketemu. Gue tau, karena pernah kejadian di depan mata gue.

source

Padahal, di depan Senayan City contohnya, bapak-bapak yang bawa-bawa pentungan dan berdiri di zebra cross itu, mengatur lalu lintas supaya kita bisa menyeberang dengan nyaman dan aman lho. Kelihatannya biasa aja, kan nyeberang sendiri juga bisa. Iya, karena anggota tubuh kita lengkap, dan kita berada dalam kondisi sehat walafiat. Mari coba bayangkan kalo kita nggak bisa ngeliat. Bukankah kita perlu mereka? Bukankah mereka yang akan membantu kita, instead sesama pejalan kaki yang belum tentu peduli?

Padahal, di kantor contohnya, OB-OB itu sudah bersusah payah untuk memenuhi seluruh permintaan kita, lho. Turun ke bawah, jalan keluar panas-panasan untuk membelikan pesanan-pesanan kita. Supaya kita bisa tetep duduk manis di dalem ruangan yang dingin. Supaya kita nggak usah capek ke sana ke mari waktu mau makan atau ngemil.

Tidakkah mereka pantas mendapatkan terima kasih?

Tidakkah usaha dan pekerjaan yang mereka lakukan pantas untuk dihargai?

Berdiri seharian memastikan kita aman selama dalam perjalanan, memandu elo menyeberang, membelikan kita makanan, it's a simple thing. Tapi cobalah menaruh diri kita sendiri di posisi mereka. Pekerjaan seperti itu sebenarnya sangat melelahkan.

Dan jika kita punya pilihan untuk membuat mereka tersenyum karena dihargai, meski hanya sepersekian detik, mengapa hal itu terasa begitu sulit? Jika kita punya pilihan untuk mewarnai hari mereka hanya dengan mengucapkan terima kasih, mengapa begitu pelit? Jika sepanjang hari kita suka berteriak di linimasa meminta untuk dihargai, mengapa tidak berlaku sama bagi mereka?

Semoga menjadi perenungan bersama. Membiasakan diri menghargai orang lain, menjadikan kita pribadi yang lebih baik. Membiasakan diri mengucapkan terima kasih, menjadikan kita pribadi yang -secara tidak langsung- mudah bersyukur karena hal-hal kecil. Membiasakan diri menghargai, menjadikan diri kita pribadi yang mengambil bagian untuk menjadikan dunia ini tempat yang lebih nyaman untuk ditempati.

Sooooo, lain kali, setelah meminta tolong atau ditolong orang lain, sekecil apapun perkaranya, #JanganLupaMakasihnya! ya. :)

2 comments:

  1. Setuju banget!!!

    Gw juga ngrasa keknya mulai kurang kalimat2 seperti terima kasih ini di masyarakat... Padahal dulu waktu sekolah sering banget di ingetin guru2...
    Ga cuma terima kasih sih... terkadang sapaan "selamat pagi", dsb juga jarang yah...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul. Kita sekarang lebih cuek bebek :(

      Gak peduli sama hal-hal kecil kayak gitu :(

      Delete