Tuesday, 8 October 2013

Bestfriend

Gue masih duduk di dalam cubicle kecil gue. Di samping, sebuah jendela terbuka lebar, membingkai kemacetan jalan Prof. Dr. Satrio yang diperparah dengan guyuran hujan lebat. Gue menghela nafas lagi. Gimana nih?

"Re-schedule?" Gue mengetik sebuah pesan, kemudian dengan cepat menekan tombol send.

"TUNGGU GUE DATENG!" Balasannya datang secepat cahaya, dengan capslock yang sejenak membuat gue membayangkan si empunya suara berteriak keras tepat di depan muka.

"Tapi ujan, nih. Besok aja, how?" Gue mencoba beralasan, kemudian melanjutkan dengan melemparkan sebuah penawaran.

"Besok-besok gue sibuk! Tunggu aja meeeen. Lembur kan luuuuuuu."

Gue tersenyum. Karena sebuah titik di kalimat paling akhir. Bukan tanda tanya, karena dia memang mengetahui dengan pasti, berapa jam gue jadi jongos berblazer di kantor ini. Gue memutuskan untuk berhenti membantah, kemudian mulai berbenah dan bersiap-siap ngesot ke mall sebelah.

-

Ruang Tunggu XXI Kuningan City

We didn't sit there, of course *grin* (source)

"So, how's life?"

Tentu saja kami nggak perlu pembukaan macam itu. Right at the time when our butts met the couch, seluruh cerita mengalir tanpa berenti kayak air bah. Dari mulai masalah percintaan, sampe cerita dan pengalaman tentang jadi jongos di perusahaan. Dari mulai ketawa-ketiwi, sampe akhirnya air mata mulai mengintip menyadari tidak hanya waktu yang berjalan maju, tapi kami pun, pelan tapi pasti berubah menjadi pribadi yang baru. Entah lebih baik atau lebih dewasa. Hanya yang pasti, masa-masa sangat berat itu menjadi pecut yang bisa luar biasa perihnya.

"Ini kita di XXI aja nih? Gak mau makan?" Gue menawarkan. Setengah hati.

"Gak usah sok iye deh lo, mau makan apaan di sini?"

Kami berdua tertawa geli, mengerti maksud masing-masing. Lalu kami kembali bersandar pada dinding XXI, kali ini sambil menaikkan kaki ke sofa. Serasa rumah sendiri. Gue memperhatikan langit-langit XXI. Sebuah lampu tergantung dan bersinar kuning temaram, tanpa membuat tempat kami duduk nampak suram.

Pembicaraan kembali bergulir. Kali ini seputar sepasang perempuan dan laki-laki yang kemarin bertengkar hebat karena masa lalu. Dia lebih banyak diam mendengarkan. Membiarkan gue menumpahkan cerita yang sejak kemarin tertahan. Walaupun plot besarnya sudah terekam dalam percakapan kami via whatsapp.

"Makanya hari Sabtu gue nge-tweet kayak gitu." Gue menghela nafas, mengakhiri cerita yang kalau dibuat sinetron, kemungkinan besar tidak ada yang tertarik untuk menonton.

"Udah gue apus, kok." Jawab dia santai.

"HAH?"

"Kenapa emang? Gue manager twitter lo sekarang! Kan password-nya di gue. Lo gak bisa apa-apa juga! HAHAHAHA."

Gue ikut ketawa. Keki.

"Thank me later."

"Never."

"You will." Trus dengan santai dia mengeluarkan lipbalm bulat berwarna hijau, kemudian memakainya tanpa rasa bersalah.

"How's work?" tanya gue. Berharap akan berhasil mengalihkan pembicaraan.

Ganti dia yang bercerita. Dengan mata menerawang entah ke mana, perlahan gue mengerti bahwa memiliki pekerjaan impian dan bekerja di kantor idaman, tidaklah semudah dan seindah yang gue bayangkan. You pay it with hard work, tears, over time, and all you get is just... "no, you're not good enough."

Gue baru menyadari, betapa mahal harga yang harus dibayar untuk decak kagum orang-orang saat orang tua kami menceritakan di mana kami bekerja dan berapa jumlah 0 di slip gaji kami. Betapa besar tanggung jawab yang kami emban hanya karena kami tidak ingin mengecewakan orang-orang yang kami sayangi. Betapa sering kami harus menelan seluruh caci maki, dan menahan air mata agar tidak mengalir di pipi. Betapa banyak yang kami korbankan jika kami memutuskan untuk resign, sehingga hal itu tidak lagi menjadi pilihan. Dan ternyata... gue tidak sendirian.

Kami mengakhiri pembicaraan penuh emosi itu ketika jam sudah hampir menunjukan pukul setengah sembilan waktu setempat. Gue akan pulang naik angkot, kami berdua belum makan malam, dan rasanya tidak bijaksana membiarkan percakapan ini berlanjut karena sepertinya kami baru akan selasai dua hari kemudian.

Di depan Gedung Sampoerna, gue turun dari scooter matic hijau-nya.

"Trims yah." Gue berteriak, berjuang mengalahkan kebisingan lalu lintas yang masih saja ramai, bahkan ketika langit sudah benar-benar gelap.

"Sama-sama, lo hati-hati ya." Dia melanjutkan perjalanan ke bilangan Senayan, Jakarta Selatan.

Meninggalkan gue yang sedang mengayuh kaki menuju halte Trans Jakarta. Menapaki anak tangganya perlahan-lahan, dengan senyum kecil terkembang di bibir.

Dua hal yang gue pelajari malam ini :

Ketika berada dalam kondisi seolah-olah tanpa harapan, terkadang yang dibutuhkan hanyalah sebuah keyakinan.
Ketika merasakan betapa besarnya masalah dan sulitnya keadaan, terkadang yang dibutuhkan hanyalah keberadaan untuk meyakinkan kita tidak sendirian.

Well, no matter how hard my life is... I still have my best friend. No matter how many times life tries to push me to the ground, I still have her to slap my cheek and scream to me, "get up!". She may not always help, but she'll always be there. Through my ups and downs, goods or bads. And it works the other way around.

Gue tersenyum lagi. Kali ini lebih lebar.

Who said I hate Monday? :)
-

Kadang, Tuhan memberkati kita bukan lewat materi atau kekayaan.
Kadang, Ia memberkati kita dengan menempatkan orang-orang baik di sekitar kita, yang selalu ada, kapan aja kita butuh mereka.
Kadang, Ia memberkati kita dengan meletakkan tangan-tangan yang selalu siap untuk menolong, kapan aja kita butuh bantuan.
Kadang, Ia memberkati kita dengan menempatkan telinga-telinga yang selalu mau mendengar, gimanapun membosankannya cerita kita.
Kadang, Ia memberkati kita dengan meletakkan bahu-bahu yang selalu ada saat kita perlu bersandar.

Maybe it sounds simple. But when you're in trouble and you feel the whole world turn their back against you... that's exactly the kind of blessing do you need.

In the other word : Bestfriend.

No comments:

Post a Comment