Monday, 2 September 2013

Nasional.is.me, Merdeka dalam Bercanda, dan Berani Mengubah - Review

Gue adalah pembaca blog Pandji sejak gue mulai follow twitternya. Sebelumnya, gue sama sekali nggak tau Pandji telah menulis dua buah buku saat itu, yakni Nasional.is.me, dan How I sold 1000 cds in 30 days. Setelah menjadi pembaca setia pandji.com, gue menyadari kalo Pandji adalah sosok pemikir yang luar biasa. Ketika gue tau dia juga menulis beberapa e-book dan dua dari e-book tersebut ada yang diproduksi dalam bentuk fisik, gue langsung hunting ke toko buku. Saat itu, gue hanya menemukan buku Nasional.is.me. How I sold 1000 cds in 30 days habis di seluruh toko buku yang gue datangi, dan akhirnya gue hanya baca e-book-nya (walaupun akhirnya gue dapat buku fisiknya J).

Nasional.is.me adalah sebuah buku yang menarik. Menarik mengingat pesan dan semangat yang ada di dalam buku ini. Ia membawa para pembacanya untuk jatuh cinta pada Indonesia. Bukan jatuh cinta lagi, tapi hanya jatuh cinta. Karena ternyata, sebagian dari kita yang apatis, sinis, pesimis, atau bahkan benci pada Indonesia, setelah diselidiki, sama sekali nggak mengenal negeri ini. Lewat buku ini Pandji secara lantang menyuarakan keindahan Indonesia, kekayaannya yang pada akhirnya akan membuka mata kita tentang betapa hebatnya negeri ini. Dan yang terpenting, kita mampu dan bisa melakukan sesuatu untuk bangsa ini. Sisanya hanya tinggal kemauan.

source

Nasional.is.me juga membawa pembacanya mengelilingi kota-kota dan pulau-pulau Indonesia yang sebelumnya hanya kita kenal lewat pelajaran Geografi. Mengenal keindahan alam yang disuguhkan, serta kekayaan sejarah yang ada di setiap kota atau pulau yang tersebar di Indonesia lewat tulisan. Antara lain Belitung, Surabaya, Kupang, dan masih banyak lagi. Bikin gue jadi gak sabar melangkahkan kaki untuk menyaksikan sendiri keindahan pulau-pulau atau kota-kota tersebut.

Kalo harus dirangkum dengan satu kata, mungkin yang paling tepat mengambarkan Nasional.is.me adalah optimisme. Pandangan positif yang dibukakan melalui fakta-fakta yang selama ini tersembunyi karena media lebih memilih yang negatif untuk disebarluaskan, diharapkan mampu melambungkan sebuah harapan. Harapan agar rasa optimis yang ada pada Pandji menular, terlebih setelah mengetahui kita mampu membuat perubahan, bukan hanya menuntutnya di jalanan.

Satu-satunya hal yang sangat gue sayangkan dari Nasional.is.me adalah teknik menulis yang sepintas seperti menulis sajak. Satu kalimat sama dengan satu alinea. Walaupun tidak mengurangi nilai dari buku ini, gue yakin akan jauh lebih baik, jika buku yang sangat bagus diimbangi dengan teknik pengeditan yang juga mumpuni.

Setelah selesai membaca Nasional.is.me, Pandji meluncurkan sebuah buku yang isinya memuat tentang sejarah Stand up comedy di Indonesia. Sebenernya, gue agak ragu untuk membeli buku ini. Alasannya adalah karena gue nggak tertarik untuk jadi komika. Gue hanyalah seorang penikmat stand up comedy.  Tapi karena penasaran dengan tulisan Pandji yang terbaru, akhirnya gue memutuskan untuk membeli buku Merdeka dalam Bercanda. Gue pre-order dan mendapatkan versi bertanda tangan dan kaos dari Multiply, karena termasuk seratus pembeli pertama.

source
Gue membuka halaman pertama, membaca halaman demi halaman, dan larut di dalam perjuangan tentang lahir dan bertumbuhnya stand up comedy di negeri ini. Sebuah catatan sejarah tentang munculnya sebuah alternatif komedi yang sarat akan pesan untuk menyuarakan beragam keresahan.

Asumsi gue di mana buku ini akan membosankan karena lebih membahas stand up comedy secara teknis, lenyap sudah. MDB sangat menyenangkan untuk dibaca, bahkan untuk orang yang amatir tentang stand up comedy seperti gue. Lebih dari itu, Merdeka dalam Bercanda, seperti halnya Nasional.is.me juga membawa sebuah pesan. Pesan untuk berani bermimpi dan mewujudkannya, bahkan jika hal tersebut terkesan mustahil pada awalnya.

Susah, tapi pasti bisa. Sebuah kalimat yang memaparkan kenyataan, namun juga optimisme di saat yang bersamaan. Gue sangat suka sebuah kalimat dari buku Merdeka dalam Bercanda, yang bunyinya begini, If your journey is hard, it might be worth it.”. Sebuah kalimat yang akhirnya menyemangati dan membuat gue bangkit lagi.

Buku ini bukan hanya semata menceritakan sejarah stand up comedy. Buku ini menularkan semangat dan optimisme untuk bermimpi dan berjuang mewujudkannya. Untuk nggak takut jatuh dan gagal, selama perjuangan. Untuk terus mencoba sampai akhirnya berhasil. Setidaknya untuk gue, buku ini bukan hanya sekedar bacaan hiburan, tapi juga pelecut semangat yang bisa gue aplikasikan dalam berbagai aspek kehidupan.

Secara teknis, Merdeka dalam Bercanda lebih sistematis dan rapi, kalo menurut gue. Walaupun kebiasaan teknik menulis sajaknya masih ada di beberapa bab, tapi jauh lebih sedikit ketimbang di buku Nasional.is.me. Merdeka dalam Bercanda juga memiliki ke-khas-an di bagian nama-nama babnya. Semuanya berbau perjuangan.

Buku ketiga Pandji, Berani Mengubah, gue temukan di INDONESIA:. Langsung gue beli saat itu juga, mengingat buku baru dari Pandji selalu merupakan kabar bahagia buat gue yang menyukai tulisan-tulisannya, lagian supaya bisa sekalian minta tanda tangan :P.

source

Buku ini merupakan lanjutan dari buku Nasional.is.me, sekaligus merupakan jawaban dari Pandji berkaitan dengan pertanyaan, “Apa yang bisa saya lakukan untuk mengubah Indonesia?”. Setelah membaca Nasional.is.me dan tertular oleh optimisme akan banyaknya potensi yang dimiliki oleh Indonesia, lewat Berani Mengubah, Pandji mengajak kita bersama-sama untuk melakukan sesuatu yang nyata. Tuntunan untuk memulai sebuah langkah awal. Itulah sebabnya, buku Berani Mengubah dilengkapi dengan poin-poin aksi perubahan yang dapat kita lakukan untuk memulai perjuangan menjadikan Indonesia lebih baik.

Lewat Berani Mengubah, kita bisa belajar lebih dalam tentang politik, ekonomi, dan hukum. Pandji memaparkan kondisi bahwa hal-hal yang sering kali diacuhkan, ternyata punya pengaruh yang signifikan dalam hidup kita, khususnya terkait dengan kebijakan yang diambil sehubungan dengan ketiga aspek ini. Membuka pandangan, bahwa sebenarnya, jika kita menolak untuk tau dan mengerti, ujung-ujungnya rugi sendiri. Dibohongi. Dibodohi.

Bab yang paling gue suka, adalah Bersatu bukan jadi Satu. Di dalam bab ini, Pandji menceritakan sebuah wawancara yang pernah ia lakukan bersama dua orang ateis di HardRockFM. Lewat wacananya, Pandji membawa sebuah pesan penting, yakni membuka diri tehadap kedewasaan untuk menerima perbedaan. Bahkan jika kita tidak sependapat, mari belajar sepakat untuk tidak sepakat, namun dengan tidak mengeliminasi hak-hak mereka. Hal ini penting mengingat beragamnya ras, agama, suku di Indonesia. Dengan menghargai perbedaan, Indonesia tentu akan menjadi negara yang ramah bagi minoritas, dan bersatu dalam perbedaan, bukan disatukan dan berpura-pura tidak melihat perbedaan. 

Pandji juga menegur dan menyindir ketidakpedulian kebanyakan pemuda akan permasalahan yang terjadi di tanah air. Padahal, masalah Indonesia, adalah masalah kita bersama. Sejahteranya Indonesia juga berarti kesejahteraan untuk rakyatnya. Sayang, kebanyakan pemudanya lebih suka terima beres, lalu ngomel kalo ternyata nggak ada perubahan atau nggak selesai-selesai. Dengan berbagai alasan, kita menolak untuk turun langsung dan berbuat sesuatu. Manja dan mental majikan.

Di akhir bab, Pandji menantang pembacanya untuk ikut berjuang. Bersama-sama bergandengan tangan, untuk mengambil langkah berani dan nyata, demi Indonesia yang lebih baik. Demi Indonesia yang sejahtera, dan lebih dari itu, mendunia. Sebuah mimpi besar, disertai pekerjaan rumah yang sama besarnya, namun sangat pantas untuk diperjuangkan.

Secara teknis, Berani Mengubah hampir sempurna. Pemilihan kosa kata, tanda baca, dan paragrafnya jauh lebih terstruktur ketimbang Merdeka dalam Bercanda dan Nasional.is.Me. Sebagai pembaca, menurut gue, Berani Mengubah adalah buku yang mendekati sempurna secara konten dan teknis. Membaca bab-bab seperti belajar ekonomi, politik, dan hukum, menjadi tidak terasa membosankan dan seluruh informasinya dapat diserap dengan baik karena pemaparan yang jelas dan detail.

Karya-karya Pandji dalam bentuk tulisan bukan hanya sekedar bacaan yang menghibur, namun lebih dari itu, mengedukasi dan menginspirasi. Pengetahuannya dikemas dengan kalimat dan paragraf yang relatif mudah dipahami oleh orang awam sekalipun, menjadikan membaca buku-bukunya menyenangkan. Luasnya referensi menjadikan tulisannya tidak subjektif. Pandji bahkan mampu melihat dan memaparkan dari dua sisi yang kontradiktif. Menjadi nilai tambah tersendiri, karena pembacanya diajar untuk menjadi dewasa dalam menetapkan opininya, bukan digiring untuk seiya sekata dengan dirinya.

No comments:

Post a Comment