Thursday, 1 August 2013

Mariska dan Sekar

"Sekar!"

Sekar menengok dan mendapati Mariska berlari kecil ke arahnya.

"Ada apaan, Mar?"

Mariska mensejajarkan langkahnya, kemudian menyodorkan sebuah pensil berwarna pink. Pensil yang tadi pagi  Sekar kagumi karena warnanya yang menarik dan gantungan beruang yang menempel di tutupnya.

"Buat kamu." ujar Mariska santai.

Mata kecil Sekar membulat tidak percaya. Bibirnya menganga karena kaget. "Buat... aku?"

Yang ditanya hanya mengangguk santai. Santai sekali. Padahal menurut ceritanya tadi pagi, pensil itu baru saja dibelikan oleh tantenya yang pulang dari Amerika. Entah di mana negara Amerika itu, Sekar juga tidak tahu. Tapi sepertinya sangat jauh dari sini. Sesaat setelah tersadar, Sekar menggeleng lesu. "Jangan ah, Mar." ujarnya pelan.

Mariska mengerutkan keningnya heran. "Kenapa?" tanyanya polos. "Aku baru pake satu kali, kok." lanjutnya sedih. Mata sipitnya meredup.

Sekar tersenyum kecil. "Bukan kok, bukan karena itu... Aku nggak bisa terima karena ini pasti mahal sekali."

"Aku nggak tau harganya berapa, tapi kan kamu suka, trus tadi, aku udah tanya sama Tante Ria, katanya pensilnya boleh kok aku kasih ke kamu, soalnya aku bisa titip lagi sama Tante Ria nanti." jelas Mariska bersemangat. Ia menyodorkan lebih dekat pensil berwarna pink itu ke muka Sekar.

Sekar menimbang-nimbang dalam hati. Dirinya suka sekali pensil cantik milik Mariska. Ah, dibayangkannya dirinya menggunakan pensil itu untuk mengerjakan pe-er nanti. Pasti ia jadi sangat bersemangat. Tapi di sisi lain, ia merasa tidak enak dengan Mariska. Dirinya tahu, Mariska sangat menyukai pensil itu. Juga gadis keturunan Tionghua itu, selalu baik kepadanya, dan Sekar tidak tahu bagaimana cara membalas ketulusan dan kebaikan hati Mariska.

"Kalo kamu nggak mau nerima, nanti aku marah loh." ujar Mariska mengancam.

Sekar terkesiap, kemudian bibirnya melancarkan protes keras, "IHH KOK BEGITUUUU!"

Mariska terkekeh geli. Pantang menyerah, ia sodorkan lagi pensil itu ke hadapan Sekar, dan kali ini Sekar mengambilnya sambil tersenyum haru.

"Makasih ya, Mar." ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Mariska tersenyum lembut, kemudian mengangguk. "Aku pulang dulu ya." Mariska berjalan menuju ke mobil yang sudah terparkir manis di depan gerbang sekolahnya. Di dalam mobil, tante Ria dan kakaknya, mama Mariska, memperhatikan kejadian itu dalam diam. Haru menyelimuti kedua wanita itu.

***

"Nggak mau ma! Ika nggak mau ke dokter lagi, Ika takut!"

Mariska kecil menangis tersedu-sedu sambil memeluk boneka kesayangannya. Tubuhnya berbaring menghadap ke dinding dan membelakangi sang mama. Mama menghampiri anak semata wayangnya itu, kemudian membawa tubuh mungil Mariska ke gendongannya.

"Lho, katanya Mariska mau sembuh? Ayo dong, kalo mau sembuh, om dokter kan udah bilang, harus rajin-rajin check up." Bujuk mama lembut.

"Disuntik lagi ma? Kayak kemaren?" tanya bibir mungil itu takut-takut.

"Enggak sayang, disuntiknya kemaren aja, hari ini kan cuma periksa." ujar mama sambil tersenyum menenangkan.

Tangis Mariska perlahan-lahan mereda.
Tangannya masih menggenggam erat baju sang mama. Batinnya menimbang-nimbang, jika benar tidak disuntik, haruskah ia melakukan perlawanan? Setelah memutuskan untuk mempercayai mama, juga lelah yang mulai terasa karena menangis, akhirnya Mariska mengangguk pelan.
Mama tersenyum, kemudian menggendong putri tersayangnya itu keluar kamar dan menuju garasi. Papa sudah menunggu di dalam mobil yang mesinnya telah dihidupkan.

"Ma..." erang Mariska pelan.

"Ya sayang?"

"Boleh nggak Ika ajak Sekar buat nemenin Ika?"

Mama tersenyum seraya mengangguk. "Iya, nanti kita jemput Sekar dulu ya, sebelum ke dokter."

***

"Sekar!" Mariska melambai-lambai dari dalam mobil sambil berteriak senang memanggil nama sahabatnya itu.

Sekar yang sibuk mengatur kue-kue dalam nampan yang dibawanya menengok mencari arah sumber suara. Didapatinya Mariska sedang turun dari mobil dan berlari ke arahnya.

"Kamu ngapain ke sini?" tanya Sekar heran.

"Aku mau ke dokter, kata mama cuma check up doang, trus boleh ajak kamu. Temenin aku, yuk?" ajak Mariska.

Sekar menatap sedih nampan yang terhampar di hadapannya. "Aku mau sih... Tapi aku harus bantuin bunda..." lanjutnya pelan.

"Sekar, tante beli semua kuenya ya? Nanti kita bagiin ke suster sama dokter di rumah sakit." Mama Mariska tiba-tiba sudah berada di belakang anak perempuannya itu. "Sekar mau kan temenin Mariska ke rumah sakit?" tanyanya sambil tersenyum.

Mata Sekar membulat, masih tidak percaya dengan pendengarannya. Kuenya habis? Dibeli semua oleh mama Mariska? Allahuakbar! Bunda pasti senang! Sekar mengangguk cepat-cepat seraya memindahkan kue-kue itu ke dalam kantong plastik.

***

"Kanker dok?" air mata langsung menuruni pipi mama Mariska. Seperti ditinju kuat-kuat, engsel lututnya terasa remuk hingga tidak mampu lagi menahan berat tubuhnya.

Sang dokter yang bertubuh gempal itu membenarkan letak kaca matanya. Ia hanya diam. Takut kata 'ya' yang sudah tergantung di lidahnya akan memukul roboh wanita di hadapannya.

***
8 Bulan Kemudian

Wajah tirus itu merengut lelah, mati-matian menahan mual dan sakit yang terasa di seluruh badannya. Tubuh kurusnya meringkuk di sebuah ranjang sederhana di sudut ruangan. Bibirnya terbuka, namun yang terdengar hanyalah sebuah bisikan pelan yang lebih mirip rintihan.

Sekar melangkah pelan menuju pembaringan Mariska. Mati-matian berusaha agar sepatunya yang beradu dengan lantai tidak menimbulkan suara. Lima langkah sebelum dirinya sampai, suara sahabat baiknya yang sedang berbaring menghadap dinding itu terdengar.

"Jangan menyerah... Jangan menyerah... Jangan menyerah..."

Sesekali, didengarnya isak tangis Mariska diantara penggalan lagu d'masiv yang dinyanyikannya tanpa nada. Hanya reffrain-nya yang terus menerus diulang, seolah sedang berusaha menyemangati dirinya sendiri saat seluruh tubuhnya dihantam rasa sakit dan mual. Harapan dan penghayatan terdengar sangat kental di setiap kata yang keluar.

***

Cerita ini terinspirasi dari sebuah kisah nyata yang diceritakan oleh Pandji Pragiwaksono, tentang anak-anak yang menderita kanker di RS Kanker Dharmais. Kamu bisa ikut menentukan akhir cerita ini, dengan membantu memberikan semangat kepada mereka lewat berpartisipasi dengan teman-teman Social Angels atau menjadi bagian dari YPKAI.

Partisipasi sekecil apapun, sangat besar artinya bagi mereka. Yuk, berbuat sesuatu.

Kita punya masa kecil untuk diingat. Mereka, punya masa depan untuk diperjuangkan.
-Pandji

No comments:

Post a Comment