Friday, 19 July 2013

(Sepenggal) Kisah di Sekolah Dasar

Sekolah gue semasa gue SD adalah sebuah sekolah Katolik di daerah Jakarta Selatan yang waktu itu didominasi oleh orang-orang yang ‘lebih’ secara ekonomi. Temen-temen gue dianter jemput pake mobil setiap berangkat dan pulang sekolah. Rumah mereka ada di bilangan Pondok Indah, dan pasti punya kolam renang. Tas sekolah mereka mereknya Kipling, yang (waktu itu) harganya na’adjubilah.

Sarah kecil yang waktu itu nggak ngerti masalah kaya dan miskin, dengan naifnya hanya berfikir, kalo itu semua itu hanya masalah perbedaan yang bisa dijembatani dengan berteman. Sayangnya, kenyataannya nggak semudah itu. Ternyata miskin dan kaya juga merupakan ukuran seseorang untuk memilih teman.


Contohnya, waktu gue mau join ke tim mading SD. Mading (Majalah Dinding) merupakan salah satu ekstrakulikuler favorit gue, sekaligus juga ekskul paling gaul abad itu *waktu itu belom ada ipad & gadget canggih lainnya* di samping cheerleaders dan basket. Sayangnya, ekskul mading baru AKAN DIGAGAS. Masih merupakan percobaan, mading akhirnya diadakan per kelas, dan wali kelas gue saat itu terlalu malas untuk mengkoordinasi personil mading, sehingga pemilihan mereka yang berpartisipasi dalam pembuatan mading diambil alih oleh anak-anak populer.

HA! Spesies yang kayak begini gue yakin banget di sekolah manapun, PASTI ADA. Mereka yang sok-sokan ngatur

hidup lo, apa yang boleh lo pake dan apa yang enggak, serta apa yang keren dan apa yang cupu. Ikutin mereka, atau elo akan jadi bahan tertawaan. Familiar? J

Balik lagi ke mading, gue pingin banget gabung waktu itu, jadi gue memberanikan diri untuk menghampiri geng populer untuk nanya, bisakah gue gabung di mading. Gue dateng dengan muka tertunduk dan cuma berani nanya pelan, dengan resiko akan ditertawakan. Jawaban yang gue terima, yang pertama, diliatin dari kepala sampe kaki, dan yang kedua ditanya, “emang lo punya bolpen warna?”

Untuk yang belum tau, bolpen warna itu pulpen gel yang isinya warna-warni dan berglitter. Keluaran Pentel waktu itu. Gue inget banget, harganya Rp 15.000,- sampai Rp 21.000,- WAKTU GUE SD. ITU MAHAL BANGET, secara uang jajan gue sehari aja cuma Rp 500,-. Gue harus nggak jajan berapa minggu coba biat beli itu bolpen? L

Parahnya lagi, ternyata itu adalah salah satu syarat (dari ribuan syarat nggak masuk akal lainnya, seperti, “emang lo punya alat make up?” APA HUBUNGAN MADING SAMA MAKE UP, NENG?) untuk join ke tim mading. Gue yang waktu itu nggak punya, bahkan nggak tau apa itu bolpen warna sebelumnya, cuma bisa diem.

Pulang sekolah, gue minta beliin bolpen itu sama nyokap. Nyokap gue cuma senyum sedih aja dengerin gue cerita. Mungkin beliau nangis dalem hati, karna gue gampang banget minta 10 bolpen, di mana gue belum ngerti Rp 17.000,- besar artinya, saat itu. Yang gue tau cuma gue harus punya bolpen itu, supaya gue bisa masuk mading. Supaya nama gue bisa juga nongol di majalah dinding yang tertempel manis di papan pengumuman deket gerbang SD gue.

Nyokap gue sampe nitip ke sepupu gue yang waktu itu sekolah di Malaysia, supaya gue bisa punya 12 bolpen warna yang mungkin nggak bermerek, tapi seenggaknya lebih beragam warnanya, dan yang pasti, lebih murah. Walaupun endingnya, syarat itu cuma akal-akalan aja, gue nggak pernah join tim mading sampe gue lulus SD.

Satu kejadian lagi, pas gue kelas 2 SD. Guru gue lagi ngajar apa waktu itu gue lupa, yang pasti beliau melontarkan sebuah pertanyaan yang sebenernya sederhana, tapi jadi nggak simple setelah gue tau akibatnya. Pertanyaannya cuma, “Siapa yang naik kendaraan umum ke sekolah?”. Gue SD kelas 2. Gue belum belajar bohong ataupun ngerti tentang gengsi saat itu. Jadilah gue reflek ngangkat tangan gue setinggi-tingginya. Gue terlambat sadar, kalo waktu itu, hanya gue yang ngangkat tangan di kelas. Semua mata tertuju sama gue. Guru gue senyum, kemudian melanjutkan pertanyaan itu tanpa rasa bersalah, “Sarah naik apa kalo ke sekolah?”

Kepalang basah, gue harus jawab. Masa gue mau diem aja sedangkan semua mata udah ngeliatin gue dan nunggu? Gue kemudian ngejawab pelaaaaan banget, “Bemo, bu.”

Lo pasti taulah kelanjutannya. Gue diketawain seisi kelas dan di jam istirahat, untuk pertama kalinya, gue nangis di toilet SD. Nyalain keran supaya isak tangis gue nggak kedengeran. Malu rasanya mau keluar dan ngadepin temen-temen gue yang tadi denger jawaban jujur-tapi-memalukan itu. Mereka yang pulang dan berangkat nggak pernah kena debu jalanan, pelan-pelan ngajarin gue apa artinya status sosial dan ekonomi kalo mau diterima di sebuah lingkungan.

Ever since that time, gue jadi manusia yang insecure. Selalu ngerasa ada yang salah sama diri gue. Selalu takut ditertawakan dan nggak bisa diterima sama orang lain.

Gue nggak tau siapa yang salah. Gue yang nggak bisa cukup dewasa menyikapi keadaan karena gue masih SD waktu itu, atau nyokap bokap gue yang memilih untuk menyekolahkan gue di sekolah yang isinya anak-anak tajir melintir.

J

Time goes by, dan sekarang, gue ngeliat ke belakang dan sadar, nggak ada yang salah. Tempaan dan masa-masa pahit yang gue lewatin ketika gue masih kecil, adalah pelajaran dan pengalaman berharga yang nggak akan bisa dibeli dengan apapun.

No, I didn’t say it was easy, tapi paling tidak, gue belajar dan mendapatkan sesuatu dari keadaan-keadaan itu. Jadi korban bullying masih jadi trauma akut yang nggak bisa gue ilangin, bahkan sampe sekarang. Tapi ada pelajaran yang luar biasa berharga untuk kepribadian gue kelak.

Ketika orang lain dipaksa untuk tetap bersyukur di antara kekurangan mereka, gue harus tetep bersyukur untuk kekurangan gue, di antara tertawaan dan cemoohan mereka yang ‘lebih’. Ketika orang lain belajar untuk membuka mata terhadap penolakan beberapa orang ketika mereka mulai dewasa dan membedakan mana yang teman sejati dan mana yang bukan, gue udah mulai merasakan hal itu ketika gue masih duduk di bangku sekolah dasar.

Sesulit apapun itu, gue belajar lebih banyak ketimbang mereka yang masa kecilnya mulus-mulus aja. Gue dipaksa untuk jadi dewasa dan mengerti sisi pahit dari kehidupan bahkan ketika gue sendiri belum ngerti bener arti dari hidup. But then again, I've passed that phase, dan gue bersyukur, untuk setiap hal yang terjadi dan membentuk gue sampai jadi Sarah yang sekarang nulis cerita ini.

Jadi untuk hal pahit apapun yang sekarang mungkin sedang lo alami... be grateful, and learn from that. Because everything happens for a reason. More than that, bad thing happens for a good reason. :)

*gambar diambil dari sini, terima kasih.

4 comments:

  1. keren!
    thx for sharing...

    ReplyDelete
    Replies
    1. You're so much welcome :D Jangan bosen main ke sini yaaa (:


      Terima kasih sudah mampir! :D

      Delete
  2. sar. bagian pipis di kelasnya gak diceritain? hahaha. lucuk abis sarah cilik

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihihi. Ntar deh, beda postingan itumah :P :P

      Nanti aku bahas di bagian lucu-lucunya aku pad SD :D

      Makasih sudah mampir yaa (:

      Delete