Monday, 15 July 2013

Resign

27/06/2013

Finally! Hari yang gue tunggu-tunggu. My last day. Hari terakhir gue di kantor lama sebelum awal Juli nanti, gue akan pindah ke kantor yang baru. Lingkungan yang baru, pekerjaan yang mungkin sama sekali berbeda, serta daerah kantor yang sangat berlawanan.

Pertama kali gue memutuskan untuk resign karena satu dan lain hal, yang gue yakini adalah, I wouldn’t miss my old office. Gue udah nggak betah, dan merasa memang keputusan paling tepat adalah: pindah. Secepatnya. Segera.


Karenanya, begitu sebuah bbm blast dari temen kuliah menawarkan sebuah lowongan kerja yang cocok dengan bidang studi gue, nggak mikir panjang, gue langsung apply. Puji Tuhan, diterima. Surat penawaran pertama datang, dan banyak hal yang nggak cocok sama gue, sehingga akhirnya gue dengan berat hati menolak. Beberapa minggu setelahnya, gue ditelpon lagi sm perusahaan tersebut. Negoisasi terjadi, dan akhirnya gue setuju untuk gabung dan memutuskan akan mulai masuk di awal bulan Juli.

Gue menghitung mundur hari-hari di kantor lama. Mengingat suka-duka yang gue lewati, kemarahan atau tawa yang gue bagi sama temen-temen kantor, kebaikan dan keterbukaan mereka sama gue sepanjang setengah tahun yang gue lewati di sini. Pembohong, kalo gue bilang gue nggak akan kangen sama kantor lama gue. A girl wouldn’t ever forget her first kiss, right?

Kantor gue yang lama adalah segala yang pertama buat gue.

Untuk pertama kalinya gue diinterview secara formal (sebelum-sebelumnya pernah interview, tapi untuk SPG, so it doesn’t count).

Untuk pertama kalinya gue kerja.

Untuk pertama kalinya gue ikut meeting.

Untuk pertama kalinya diomelin waktu kerjaan gue belum selesai padahal udah mepet deadline.

Untuk pertama kalinya nangis gara-gara tekanan kerjaan.

Untuk pertama kalinya dapet gaji bulanan.

Untuk pertama kalinya dimarahin dan diteriakin di depan umum.

Untuk pertama kalinya jadi jongos dadakan.

Untuk pertama kalinya ngerasain ngantor hari Sabtu waktu harus nyelsaiin SPT Badan.

Untuk pertama kalinya gue akhirnya berani bilang gue nggak betah dan mau resign.

Dan masih banyak lagi untuk pertama kalinya yang terjadi di kantor ini. Kejadian pahit ataupun manis yang udah gue lewati, apapun itu, yang akhirnya menjadikan diri gue saat ini.

Bos lama gue bilang, nyari kerja itu kayak nyari jodoh. Cocokan. Nggak ada kriteria pasti, banyak pertimbangan yang harus dipikirkan, dan yang penting, kata hati. Karena banyak mereka yang (sepertinya) udah sempurna kantornya, gajinya, kerjaannya, lingkungannya, namun kemudian pindah ke kantor yang bahkan mungkin nggak sebonafit kantor lamanya. It happens.

Eventually, mungkin kantor gue yang lama bukanlah jodoh gue. But at least I tried. Hehe.

Untuk semua keluarga kantor lama gue, terima kasih untuk bantuannya selama ini ya. Maaf suka nanya-nanya melulu, maaf kalo bawel, maaf kalo ada salah-salah kata atau tindakan yang nggak disengaja… and thanks for the memories!

Now, I’m ready to step forward with all the consequences of my decision. 

Pray for me, okay? J



Life is all about choices,
and choosing is all about taking steps forward,
and also risks that follow. –@sarahpuspita

No comments:

Post a Comment