Wednesday, 17 July 2013

Kantor Baru

15/07/2013

Tepatnya tanggal 2 Juli 2013 yang lalu, gue (akhirnya) pindah ke kantor baru. Hari pertama masuk kerja, perkenalan secara formal, tanda tangan kontrak, informasi mengenai job description, semuanya gue jalani dengan dibayangi satu rasa: takut.

Takut ternyata gue salah ngambil keputusan. Takut sama konsekuensinya. Takut gue nggak betah. Takut orangnya jahat-jahat. Takut nggak bisa menuhin ekspektasi bos-bos yang nge-hire gue. Takut sama tanggung jawab baru yang akan gue emban *tsah*.



Rasa takut yang justru jauh lebih besar ketimbang waktu gue ketrima di tempat kerja yang pertama. Tempat kerja gue yang pertama itu perusahaan yang pemiliknya temen bokap gue, dan gue diterima tanpa tes formal apapun. Sedangkan tempat kerja gue yang sekarang... gue diinterview lamaaaaa banget dan dites langsung sama manajer keuangannya, dan somehow ada tekanan batin untuk diharuskan memenuhi ekspektasi besar atasan gue.

Jadilah... Hari pertama gue bangun pagi banget dan ngangkot ke kantor, karena di kantor yang lama, gue berangkat bareng dan selalu dijemput sama bokap. Hari pertama gue bawa minion Happy Meal ke kantor buat gue nemenin gue kalo gue takut (yeah as stupid as it may sound). Hari pertama gue nggak bawa bekal ke kantor, tapi nggak berani keluar kantor gegara takut dibilang songong, anak baru udah sok-sokan makan di Ambas / Kuningan City. So I kinda skipped my lunch that day. Hari pertama, gue keliling kantor untuk kenalan satu persatu sama seluruh bagian kantor. Ada yang ramah banget, ada yang jutek, ada yang cantik banget, ada yang lucu, ada yang (keliatan) galak, dan seterusnya. Hari pertama gue jalan kaki dari AXA Tower Kuningan ke halte Karet, dengan kondisi perut belum diisi seharian.

Hari pertama gue nangis tersedu-sedu pas gue sampe di rumah. No body knew, not even my family and my boyfriend. Gue terlalu malu untuk mengakui kalo gue takut keputusan gue untuk pindah ternyata salah. Gue nggak bisa kelihatan lemah sekarang. Gue udah terlanjur masuk and I have to keep going.

Hari kedua, gue berangkat ke kantor dengan beban yang kurang lebih sama dengan hari pertama, namun kali ini, gue nggak pulang naik angkutan umum. Seorang temen kantor berbaik hati menawari gue untuk pulang sama-sama karena rumah kami memang searah. Di perjalanan pulang yang luar biasa jahanam macetnya, gue memberanikan diri untuk dengan jujur ngomong ke Roy tentang apa yang gue rasain, setelah dua hari kerja di kantor yang baru.

Cemas, takut, gugup, masih dalam tahap bersosialisasi dan adaptasi dengan lingkungan yang baru, capek, khawatir, semuanya campur aduk jadi satu. Gue nanya ke dia, "Salah nggak sih hun, keputusan yang aku ambil? :("

Dengan diplomatis doi jawab, "Bener kok. Nggak salah, kalopun salah, there's no way back. Makanya mikirnya bener aja. :)" Abis itu dia nyemangatin gue, ngebesarin hati gue dengan berbagai kata-kata yang bisa bikin gue senyum dan yakin lagi untuk ngejalanin keputusan yang gue ambil.

I thank him for never getting tired of my-so-much-negativity-self.

Hari ketiga adalah hari di mana nasib gue diputuskan oleh manager keuangan, tentang posisi, dan di anak perusahaan mana gue akan ditempatkan. Di sinilah Tuhan pelan-pelan mulai meyakinkan gue, kalo gue nggak akan jalanin semuanya sendirian. Dia mempercayakan gue untuk membuat sekaligus memeriksa data dan laporan keuangan sebuah anak perusahaan yang bergerak dibidang drilling. Nggak cuma itu, gue juga dikasih seorang senior yang baik banget buat nuntun gue, dan sabar banget ngajarin gue yang kadang lemot dan susah nangkep. Tiap pulang kantor pun, gue nggak perlu lagi jalan kaki ke halte Karet dan sesek-sesekan di Transjakarta. Ada dua temen kantor, mereka kakak adik, dan rumahnya bener-bener searah sama gue. Gue bisa nebeng sama mereka setiap pulang, dan mereka sangat amat baik sekali :")

Hari ini, gue memasuki minggu ketiga di kantor gue yang baru. Gue mulai terbiasa dengan kedisiplinannya, jam kerjanya, atmosfer kesibukannya, dan kerjaan baru gue. Capeknya masih terasa, tapi pelan tapi pasti, gue mulai biasa. Satu hal lagi, gue bersyukur untuk setiap keputusan yang pada akhirnya gue ambil dan gue jalani. Gue bersyukur Tuhan nggak pernah bener-bener ninggalin gue sendiri. Gue bersyukur punya Roy yang selalu supportive dan nggak pernah capek meyakinkan gue kalo gue bisa, dan harus percaya sama diri sendiri. Gue bersyukur, buat banyak hal yang bisa gue syukuri dalam hidup. Termasuk kepindahan gue ke kantor yang baru. :)

*gambar diambil dari sini. Terima kasih (:

3 comments:

  1. Welcome to the hectic world of working and having a job ;) you'll love and get use to it *smooches*

    ReplyDelete
    Replies
    1. thank you dear :*

      doakan aku yaaa :D

      Delete
  2. Welcome to the hectic world of working and having a job ;) you'll love and get use to it *smooches*

    ReplyDelete