Monday, 24 June 2013

Dua Puluh

Hari ini, 24 Juni, tepat dua puluh tahun yang lalu, seorang teman Tuhan utus ke dunia untuk gue. Seorang adik laki-laki yang dulu jadi teman bermain gue, tempat gue berkeluh-kesah waktu gue dimarahin sama papa mama, tempat menangis bersama, teman bertengkar, saudara untuk berbagi sepiring makanan, tempat tidur, bahkan bathtub dan pakaian.



Sayang, semua tidak berjalan semulus yang orang tua gue inginkan. Sabetan demi sabetan pernah kami cicipi, saat kami didapati bertengkar satu sama lain.

I wasn’t a good sister. Waktu kecil, gue yang selalu ngadu setiap kali gue dipukul, dan ngancem supaya dia diem setiap kali gue yang kasar. Gue yang suka mengkambing-hitamkan dia dalam berbagai kesalahan yang gue lakukan, hanya supaya gue terhindar dari hukuman. Gue yang selalu lebih bisa memonopoli perhatian, sedangkan dia yang lebih banyak diam.

Sedangkan dia adalah adik terbaik gue. Waktu kecil, dia selalu diem dan sabar saat gue jahat. Dia pernah dihukum karena gue, bukan karena kesalahannya. Dia pernah minta maaf sama gue, meskipun gue sama salahnya. Dia selalu maafin gue, segimanapun sakitnya hukuman yang dia jalanin karena gue. Dia yang lebih banyak menangis diam-diam, karena katanya laki-laki harus lebih tegar.

Gue masih bersyukur sampai saat ini, karena Tuhan tidak mengabulkan SELURUH permintaan gue. Karena permintaan bodoh yang pernah terucap di antara ketidaktahuan dan kemarahan hanya akan melahirkan penyesalan. Permintaan yang sempat terlontar di antara rasa marah atau kesal yang menguasai pikiran. Pertengkaran, yang pada akhirnya berakhir dengan jeritan dan tangisan perintah untuk menghilang antara satu dengan yang lain. Saat itu, mungkin Tuhan hanya tersenyum ketika duduk menonton Sarah kecil yang dengan emosi memanjatkan sebuah doa cepat agar ia kembali menjadi anak tunggal. Ia tidak mengabulkannya sampai saat ini, dan gue sangat bersyukur untuk itu.

Ada penyesalan yang selalu terasa sesak di dada setiap kali gue membuka lagi kenangan tentang masa kecil. Ada hal-hal yang tetap tidak terbayar waktu gue menyadari, tidak ada yang bisa gue lakukan untuk memutar-balikan waktu. Gue berubah. Dia berubah. Tapi masa lalu itu selalu ada di sana, dan tetap sama. Menjadi pengingat bahwa gue pernah menjadi kakak yang sangat jahat, dan dia selalu konsisten menjadi adik gue yang baik. Menjadi pelajaran bahwa kesalahan yang dulu gue lakukan, lepas dari ketidaktahuan gue, akan bertransformasi menjadi penyesalan yang kemudian menghantui gue. Entah sampai kapan.

Hari ini, adik gue ini genap berusia dua puluh tahun. Dia yang kini sudah jauh lebih tinggi dari gue, lebih kuat, dan lebih tenang secara emosi. Dia yang bukan lagi adik kecil gue yang dulu gue ajak main boneka atau monopoli. Dia yang mungkin sudah mulai mencintai perempuan lain, di luar ibu dan kakaknya.

ha. remember?

Dia yang selalu dan akan selalu bikin gue bangga,

dan dia yang sangat gue sayangi.

Happy Birthday. J

4 comments:

  1. Kyaaaa! Baca post ini jadi kangen adikku deh (mereka seumuran hihii...).

    dan kayaknya kita juga sama, yah? sama-sama pernah jadi "kakak yang jahat" haha.. but at the end, lil bro is our protector besides Daddy. ^^

    Happy 20th birthday to your lil bro, moga makin cakep dan diberkati *ganjen teteup* :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe iyaa, tapi dia udah maafin aku :") dia emang selalu jadi adikku yg paling baik :")

      Hehe, thank you ya dear! Amin :")

      Delete
  2. I'm your new reader. :)

    happy bday to your lil brother, all d best for him :)

    mungkin semua perasaan kakak di dunia ini sama, pernah dan (ada yang) masih jadi kakak yg 'jahat' ..

    suka skali kalimat di atas dan di bwah foto kedua :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hai Unni :)

      Terima kasih untuk ucapan dan doanya ya, nanti aku sampaikan :D

      Iya, kita semua pernah jadi anak-anak yang egois dan jahat :) Permasalahannya hanya mau berubah atau tidak :)

      hehehe. Terima kasih sudah mampir dan main ke sini ya :)

      Ditunggu kunjungan selanjutnya *hug!*

      Delete