Thursday, 13 June 2013

Cinta saja (Tidak) Cukup

Rasa deg-degan, desiran halus yang membelai kulit, kupu-kupu yang berterbangan di dalam perut, dan enzim dopamine yang terproduksi lebih banyak dari biasanya, senyum bodoh karena hal-hal kecil, segala sesuatu yang mendadak terlihat menarik jika ada kaitannya dengan subjek yang tengah dijatuhi hati. Perasaan ingin menjaga, melindungi, memiliki, dan membuat dia tertawa bahagia.

Ciri-ciri mereka yang sedang berada dalam tahap pendekatan atau tahap awal sebuah hubungan. Hal-hal yang sering kali ditafsirkan sebagai pertanda datangnya cinta. Permulaan berseminya benih itu dalam hati dua orang manusia.

Cinta adalah sebuah perasaan. Perasaan yang dialami oleh dua insan, yang menggebu di awal, kemudian, seiring berjalannya waktu akan berganti dengan rasa nyaman dan keterbiasaan. Bukan. Cintanya tidak hilang. Ia hanya bertransformasi, menjadi kebutuhan akan kehadiran seseorang yang tidak lagi bisa dihindarkan.

Ketika rasa deg-degan tidak lagi dirasakan, dopamine yang terproduksi mulai kalah oleh air mata akibat datangnya pertengkaran, senyum sesekali digantikan tangisan, perasaan egois yang mulai naik ke permukaan, serta dihantui oleh sejuta keraguan, apakah cinta itu… ikut hilang?

Apakah cinta saja… cukup untuk mempertahankan sebuah hubungan?

Komitmenlah yang berperan untuk menjawab keraguan. Kedewasaan kedua belah pihak untuk menerima pasangan. Kebaikan dan keburukan. Suka dan duka. Kesuksesan dan kejatuhan. Untuk tetap ada di sampingnya, bersamanya dan meyakinkan dirinya bahwa ia tidak sendirian. Tetap setia di saat-saat terberat dalam kehidupan.

Cinta dalam sebuah hubungan, harus berjalan seirama dengan kedewasaan dalam berkomitmen. Keikhlasan untuk menerima bahwa hidup tidak melulu manis seperti cokelat. Romantisme suatu saat nanti akan pudar. Degup jantung yang memabukkan akan digantikan detak pelan berirama yang (hanya) menyuarakan kenyamanan. Pujian dan sanjungan yang mulai lupa disuarakan secara verbal. Keacuhan yang terselip diantara kesibukan.

source: here
Hal itu terjadi di tengah-tengah dua hati yang masih saling menyayangi. Hanya, ada sebongkah pengertian dengan alas kedewasaan yang menjembatani. Hanya, ada komitmen yang digenggam erat oleh kedua tangan yang terus berjanji untuk memperjuangkan. Berjanji untuk tidak menyia-nyiakan, apalagi melepaskan. Percaya bahwa setiap masalah memiliki jalan keluar. Terlebih, percaya bahwa selama mereka (masih) ada satu untuk yang lain, semuanya akan baik-baik saja.

Cinta... adalah sebuah perasaan.

(Men)cinta(i), adalah sebuah tindakan. Kata kerja, yang mewakili beragam aksi. Termasuk di antaranya, menghargai, memaafkan, mengerti, menghormati, mendukung, dan terkadang… melepaskan.

 “I’ve learned that… Love is not just a feeling. It’s a choice.
We have to choose to forgive, to respect, to support, to be faithful.”
-@myaharyono

10 comments:

  1. Sarah izin copas ya bagus postingannya. Ditulis sumbernya kok :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. silahkan :) terima kasih sudah mampir dan membaca yaa (:

      Delete
  2. Nice post! Me likey! So simple yet touching written. ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. thank youuuu so much, dear :)

      Delete
    2. Sama sama sar. Bagus-bagus deh postingannya

      Delete
    3. Thank you so much yaaa *terharu* :")

      Delete
  3. "Cintanya tidak hilang. Ia hanya bertransformasi, menjadi kebutuhan akan kehadiran seseorang yang tidak lagi bisa dihindarkan." - TOTALLY AGREE! :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. YES!

      terima kasih sudah mampir dan membaca ya, sayang :)

      Delete