Wednesday, 15 May 2013

Taruhan untuk Sebuah Senyum

DISCLAIMER:
Postingan ini merupakan lanjutan #ceritakami
Baca di sini dan di sini :)

---

Toilet XXI Metropole, 26 Januari 2013,15:00



Aku menyandarkan kepalaku di dinding bilik. Pusingnya sudah mereda, namun mualnya tak kunjung hilang.

“Jangan pingsan sekarang…” Aku berbisik pada diriku sendiri. “Please, hang in there, jangan biarin gue berantakin hari ini…”


***

XXI Metropole, 26 Januari 2013,15:25

Are you okay?”

I am. Studionya udah di buka?”

“Belom, masih lama… Jalan-jalan dulu yuk?” ajaknya.

Aku mengangguk. Mengikuti langkahnya menyusuri trotoar di daerah Sabang. Ia berjalan di depanku, membimbing tanpa sekalipun mencoba mencuri kesempatan untuk menggenggam tanganku. Sebagai gantinya, ia hanya menawarkan tangannya sebagai pegangan ketika bidang yang diinjak sepatuku mulai tidak rata atau berbatu.

“Kita mau kemana?” tanyaku penasaran.

“Lo mau liat pasar bunganya?”

“Yang lo tunjukin pas kita di jalan pulang minggu lalu? Mauuuu!”

Iya tersenyum mendengar antusias dalam jawabanku, dan kami berjalan beriringan menuju ke pasar bunga. Sayang, hari masih sangat sore, dan belum banyak yang berjualan di sana. Hanya ada tenda-tenda yang masih kosong. Kami berjalan menuju ke arah gang, berniat melihat apakah ada penjual bunga yang mangkal di sana.

“Lo suka… mawar putih ya?” tanyanya. Aku mengangguk.

Ketika sampai di ujung gang, telingaku disambut pekikan dan teriakan. Keras dan bersamaan.

“AYO SILAHKAN KAKAK!”

“CARI BUNGA APA KAKAK?”

“MAWAR YAA?”

“SINI LIAT LIAT DULU…”

“AYO MASUK SILAHKAN...”

Beberapa dari penjual tersebut kontan bangkit dari duduknya dan bergerak menghampiriku. Aku yang masih kaget dan setengah takut, langsung balik badan dan berjalan keluar cepat-cepat. Ardi mengikutiku, masih dengan tanda tanya besar di wajahnya.

“Lo kenapa Vel? Katanya mau liat pasar bunga?” tanyanya.

Aku berhenti dan menunggunya menyejajarkan langkahnya denganku. “Sorry, gue kaget banget mereka semua nawarin sambil teriak-teriak barengan gitu…” jawabku jujur.

Ia tertawa kecil, kemudian mengajakku ke sebuah restoran cepat saji yang tak jauh dari pasar bunga tadi.

“Lo mau pesen apa?”

Aku menggeleng takut. Seketika mual datang menyapaku.

“Enggak, gue kenyang…” ujarku. Terbata-bata.

“Lo belom makan sama sekali lho, makan ya?”

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Kemudian tersenyum seraya mengucapkan terima kasih, namun aku tetap pada pendirianku. Akhirnya ia menyerah, hanya membelikanku segelas lemon tea sebagai gantinya.

Thanks.” ujarku sambil memperhatikan ia yang sedang menikmati es krim favoritnya.

“Sama-sama, tapi lo nggak boleh kenyang terus dong… Gue bingung nih, lo nggak mau melulu kalo diajak makan…”

“Mau kok. Tapi gue nemenin aja.” jawabku.

“Ye, itu mah sama aja…”

Aku tersenyum, berusaha melupakan mual yang masih tetap di sana. Enggan pergi.

“Kan udah gue bilang,…”

“…lo nggak bisa makan di depan orang yang lo suka, ya kan?” Sambungnya cepat, kemudian tertawa.

Aku hanya tersenyum kecil. Tidak ingin dia tahu, kalau hari ini bukan karena ada-di-depan-orang-yang-ku-suka, tapi karena aku sedang sakit. Dan nekat memaksakan diri untuk tetap pergi.

***

No comments:

Post a Comment