Monday, 20 May 2013

Sebuah Senyum untuk Bulan di Kegelapan

DISCLAIMER:

Postingan ini merupakan lanjutan dari #ceritakami :)
Baca selengkapnya di :
Sabtu Pertama Bertatap Muka (1)
Berbagi Tawa dan Cerita (2),
Taruhan untuk Sebuah Senyum (3) :)

---

26 Januari 2013, Pelataran Parkir XII Metropole, 19.00


"Vel, mau makan malem di mana?"

Aku menggeleng malas, "Terserah lo, Di... Gue nggak makan ya, nemenin aja..."

"Tuh kan..." Mukanya merajuk.

Aku hanya tersenyum masam. "Kenyang..."

"Kenyang gimana? Lo belum makan apa-apa dari tadi pagi..."

Ia mengajakku duduk di kap mobilnya. Tangannya, entah sejak kapan menggenggam erat tanganku yang terasa dingin karena AC di dalam bioskop. Aku menyandarkan kepalaku ke bahunya. Biarlah, mungkin saja ini pertemuan kami yang terakhir.

"Ardi, katanya hari ini purnama ya?"

"Hmm... harusnya sih."

Aku dan Ardi sama-sama mendongak menatap langit. Mencari sebentuk bulan penuh di sana. Tapi hanya langit gelap yang menyambut pandangan kami berdua. Sang bulan tertutup awan sepertinya.

"Nggak ada..." desahku kecewa.

Ia bangkit dari sisiku. Kemudian berdiri di hadapanku, sambil menggenggam kedua belah tanganku.

"Makan ya? Hmm, Cimori Riverside deh, mau? Kita makan di sana, abis itu langsung balik... Kemaleman nggak ya? Eh tapi gapapa deh, yang penting lo harus makan..." bujuknya.

Aku menggeleng lemah.

"Vel, lo sakit ya?"

Aku mendongak. Terlalu cepat sehingga akhirnya ia menafsirkan gerakanku sebagai persetujuan atas pernyataannya. Tangannya menyentuh keningku. Genggamannya terlepas sudah. Dalam hati, aku mengeluh kecewa. Aku suka hangatnya, dan ingin tanganku tetap ada di sana, namun tak kuasa karena tak punya hak untuk meminta.

***

26 Januari 2013, Tokove Kemang, 20.00

"Ih! Lucu banget restonya!" ujarku kagum.

Cafe kecil dengan interior yang sangat terasa seperti rumah, dan malam itu, tidak terlalu ramai. Hanya ada aku dan Ardi, serta beberapa orang yang duduk di smoking area. Aku mengedarkan pandanganku. Masih mengagumi keindahan dan kepiawaian pemilihan furnitur-nya. Sebentar saja, tempat ini sudah membuatku jatuh cinta.


"Di sini Bumble Bee-nya enak banget lho."

"Oh ya? Eh? Bumble Bee?" tanyaku heran.

"Bumble Bee itu Bika Ambon, tapi ditambah topping ice cream Vanilla di atasnya. Enak deh. Mau coba?" tawarnya.

Aku menggeleng. Perutku masih terasa sangat penuh, dan rasanya melihat makanan seenak apapun saat ini hanya akan membuat isi perutku seluruhnya mendesak keluar.

"Lain kali, nggak boleh begini ya? Jangan maksain ah kalo lagi sakit... Kalo nanti makin parah gimana? Kan bisa kapan-kapan jalannya..." Nasihatnya panjang lebar.

Seandainya ia tahu bagaimana panjangannya perjalanan Senin minggu lalu menuju hari ini... Bagaimana khawatirnya aku saat ia sempat sakit di hari Rabu, dan bagaimana senangnya aku saat menerima pesannya di hari Jumat... Bagaimana mungkin aku menghancurkan semuanya hanya karena aku sakit?

Aku tidak membantah, hanya mengangguk mengiyakan.

Ia tersenyum lembut. "Janji ya?"

Aku mengangguk. Kemudian ia memesan makanan, sedangkan aku hanya secangkir teh poci yang kuharap bisa membantu meredakan mual.

Sambil menunggu pesanan kami datang, ia melangkah menuju mini stage dan mengambil sebuah gitar, kemudian membawanya menuju meja kami.

"Nyanyi dong!" pintaku.

"Nyanyi apa?" tanyanya.

"Apa aja."

Ia terlihat berfikir sejenak, kemudian melantunkan sebuah intro yang sangat akrab di telingaku.

"When you try your best but you don't succeed..."

***

"Ceweklah."

"Eh? Bukannya cowok ya yang harus sms duluan? Kalo cowoknya sms, itu artinya dia tertarik untuk melangkah lebih jauh."

"Kan cowoknya yang ngajak, jadi si cewek yang harus ngasih kesan pesan sesudah first date. Cowoknya nunggu. Kalo nggak disms, ya berarti... selesai di sana."

Seandainya malam itu nggak ada pertandingan Liverpool...

***

*gambar di ambil dari sini, terima kasih.

2 comments:

  1. Aku jadi penasaran sama Bumble bee.. :|
    Beneran ada?

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyah dear, ayok cobain :D

      aku pernah ke sana lagi, tapi masih abis juga :/

      Delete