Wednesday, 29 May 2013

Rumah

DISCLAIMER:
Postingan ini merupakan lanjutan dari #ceritakami:
(1) Sabtu Pertama Bertatap Muka
(2) Berbagi Tawa dan Cerita
(3) Taruhan untuk Sebuah Senyum
(4) Sebuah Senyum untuk Bulan di Kegelapan
(5) Dua Senyum untuk Sebuah Jawaban

Pelataran Jakarta Theatre, 02 Februari 2013, 18.45

Tangannya masih menggenggam erat tanganku. Kami berdua turun dari mobil dan menuju ke Teater Jakarta, tempat pertunjukan Drama Musikal Sangkuriang akan berlangsung. Ia menukar lembar pembayaran dengan tiket, sementara aku terpaku mengagumi keindahan bangunan di hadapanku. Masih segar dalam ingatanku, percakapan kami dua minggu lalu di sini. Sebuah pertanyaan yang terucap tanpa maksud dan terlontar tak sengaja.

“…so, are you saying you’re the right one?, gue nggak bisa jawab itu sekarang… Tapi… biarin gue buktiin itu day by day ya?”

Sederhana. Tanpa janji-janji manis. Tanpa sodoran mimpi. Hanya ada niat untuk berusaha, sekuat yang ia bisa. Hanya ada permintaan untuk percaya, sekalipun ia belum mulai membuktikan apa-apa. Aku tersenyum. Lagi. Untuk kesekian ratus kalinya, mengucap syukur di dalam hati.

“Yuk, makan dulu?”

Aku mengangguk. “Yuk.”

Ia menggenggam tanganku, kemudian menggoyang-goyangkannya di udara.

Tangan ini, kini telah menemukan tempat di mana ia akan berlari waktu kedinginan. Kaki ini, akhirnya bersama ia yang mau berjalan seirama. Hati ini, akhirnya telah menemukan sebuah rumah.

***

XXI Café, 02 Februari 2013, 19.00

“Kenapa hayo, senyum-senyum?”

Aku mendongak, dan melihat ia membawa sebotol minuman duduk di sampingku.

“Jadinya pesen apa?” tanyaku.

“Pizza. Gue dari kemaren kepingin makan pizza belom kesampean-kesampean abisnya.” jawabnya.

Aku tersenyum lagi.

“Ih, jangan senyum mulu ah.”

“Ih, emang kenapa?” tanyaku.

Ia hanya mengacak rambutku sebagai jawabannya, kemudian melukis sebuah senyum juga di bibirnya, dan...
twitter update-nya.

***

Jakarta Theatre, 02 Februari 2013, 21.00

“Dingin? Gue ambilin jaket di mobilya?”

Aku menggeleng pelan, masih terpaku pada keindahan performa dari teman-teman Universitas Parahyangan yang sedang menari dan menyanyi mengikuti musik. Tangannya masih menggenggam erat jemariku.

“Keren banget Ardi…” desahku kagum.

“Iya, apalagi Dayang Sumbi-nya tuh…”

“Mereka nyanyi terus-terusan kayak gitu, nggak capek apa ya?” tanyaku.

“Nih, makanya Dayang Sumbinya ada dua orang kan…” Ia menunjukan buku yang kami dapat saat masuk tadi.

Aku mengangguk.

“Seneng?” tanyanya.

What a rhetorical question.

Aku mengangguk, kemudian menyandarkan kepalaku di bahunya.

***

Pelataran Jakarta Theatre, 02 Februari 2013, 21.35

“Capek?”

Aku menggeleng cepat. Ia dengan sigap mengambil posisi di antara aku dan arah mobil yang datang, kemudian membimbingku menyeberang menuju ke tempat parkir.

“Di, itu apa?” telunjukku mengarah pada segerombolan anak-anak yang sedang menari bersama-sama, mengikuti irama musik.

Street dance lagi kayaknya, mau liat?”

Aku berjinjit. Heels yang kupakai tidak cukup tinggi. Pandanganku terhalang puluhan orang yang berdiri di hadapanku.

“Sini, naik sini!” ujar Ardi cepat.

Tangannya menggenggam erat tanganku, kemudian membantuku menaiki pembatas jalan yang cukup tinggi. Hati-hati, aku menaiki undakan itu, dan menyeimbangkan tubuhku di atasnya.

Ardi berdiri tepat di depanku dan menepuk pundaknya. “Sini, pegangan.”

***


No comments:

Post a Comment