Wednesday, 17 April 2013

#SuratSayangUntukEditor

1 Message Received.

“Cek email ya!”

SMS dan email rese yang selalu gue kirim ke elo, kapan aja kepala ini buntu. Bisa pas tulisan gue udah jadi, bisa pas cerpen gue masih setengah mateng, atau bahkan pas blogpost gue masih dalam bentuk ide. Seperti yang sudah-sudah, elo hanya akan me-reply, “oke!” kemudian gue akan duduk dan menunggu balasan dari email yang gue kirim. Beberapa saat sesudahnya, balasannya akan datang, biasanya berupa komentar panjang, kritik-kritik, dan missing link yang terlupakan, yang diakhiri dengan salam yang nggak pernah senormal best regards. Love from your loyal readers, hopefully helpful, Love from room 3x4 at Jl. Sandang, atau keep on fire-lah yang akan muncul di atas nama lo, Jesica Indah.


Elo masih jadi manusia dengan persedian tolong terbanyak yang pernah gue kenal. Draft yang gue kirim berulang-ulang, cerpen nggak masuk akal, blog post yang isinya cuma curhatan, elo baca serius dan teliti, sampai akhirnya email gue dibales dengan input-input yang gue butuhkan untuk membuat tulisan-tulisan itu lebih baik… atau sering kali, lebih masuk akal. Atau terkadang, sekedar mengingatkan untuk memberikan pesan. Hal-hal penting yang lebih sering gue lupakan.

Elo masih jadi pembaca yang selalu percaya gue bisa. Nggak pernah lelah waktu gue ribuan kali mau nyerah. Seems like you never lose your faith on me. Jadi penenang waktu gue kecewa sama diri gue sendiri (hey, remember Rectoverso?). Jadi yang ‘mukul’ kepala gue untuk nunduk waktu gue mulai ngerasa ‘bisa’. Jadi pengingat waktu gue mulai gampang berpuas diri. Jadi tempat menangis waktu gue frustasi. Jadi penasehat paling bawel masalah self satisfaction dalam berkarya. Jadi penyemangat waktu gue ngerasa bodoh. Jadi pendengar setia untuk seluruh ide yang muncul tiba-tiba, di saat semua orang sudah sudah terlelap dan bermain-main dalam mimpi. Jadi ‘pembela’ waktu gue menyalahkan diri sendiri karena sebuah kekalahan. Jadi teman berbagi, sahabat yang paling mengerti, serta kakak perempuan yang berbeda mami papi.

Untung elo cewek ya. Kalo cowok, mungkin gue dilema sampai mau bunuh diri waktu harus menentukan pilihan hati (you know what I mean (--,)).

Thanks ya. For being there for me through goods and bads. For the inputs. For the critics, even sometimes I can’t handle it well. For never getting tired of unlimited emails and text messages from me. For being a reminder, best friend to slap me right on my face, and sister to comfort me. For believing in me, always, even when no one else does.

Berhubung terima kasih lewat sms, email, atau directly sudah terlalu mainstream, mari kita coba versi lain. Lewat blog post!

HA! I wonder how your face looks like when you read this. Oh man, you must be crying. I LOVE YOU! :))

Terakhir, please don’t get me wrong, gue nggak kelainan orientasi seksual, hanya ungkapan terima kasih untuk seorang editor pribadi paling hebat, yang juga seorang sahabat.


Love from tiny cubicle at Jl. Arjuna,


Sarah Puspita

*Because 'Surat Cinta' is tooooo mainstream :D

2 comments:

  1. I TU FO TO GU E GE N DU T GI LA !!
    *kl ga komen gini ga seru yaaa*

    thank you, so honored :')))
    gaji saya mana?? saya dibayar pake pacar bule 1 bisa loh
    . . .

    ReplyDelete
    Replies
    1. coba kasih foto lo yang gak gendut, sini gue ganti :))
      *maap yak rina vio, kalian berdua gue potong :3*

      MUAHAHAHAHAHA!
      katanya nungguin dijemput mas adam (air)?

      Delete