Wednesday, 3 April 2013

Si Hitam Misterius


Aku memandang layar smartphone, kemudian menaruhnya kembali ke tempatnya dengan lesu. Tidak ada lampu kedap-kedip merah, artinya tidak ada pesan yang masuk. Tidak ada pesan darinya. Aku memeluk gulingku erat-erat. Aku kangen dengannya, seandainya saja aku tahu dia di mana.

Aku menghela nafas berat. Sekali lagi mengecek smartphone-ku, yang kali ini menunjukkan tanda-tanda adanya sebuah pesan masuk. Terburu-buru aku membuka pesan tersebut.

“Hai!”

Hanya sebaris pesan, yang mampu membuat senyum manis terkembang di wajahku. Aku diam memandangi sebaris kalimat yang aku tunggu sejak siang tadi.

Akhirnya, “Hai juga! Belum tidur?”, kuketik sebagai balasan.

Sambil menunggu balasannya, aku kembali membaca pesan singkat yang ia kirimkan. Sebuah sapaan universal yang digunakan di seluruh belahan dunia, namun menjadi berbeda ketika keluar dari ia yang ditunggu sepanjang siang hingga malam menjelang.

Kerlip merah menyadarkanku. Pesanku sudah berbalas. Ingin rasanya menjerit bahagia kalau tidak ingat ini jam berapa.

“Belum, kamu?”

Pertanyaan retoris. Cenderung bodoh dan
tidak perlu di jawab, namun kontan membuatku tersenyum lagi. Kali ini lebih bahagia. Entahlah, jatuh cinta itu, rasanya seperti ini ya? Bahkan hal-hal kecil dan remeh pun disyukuri. Detail yang tak terlihatpun jadi bisa dibesar-besarkan sehingga akhirnya melahirkan kebahagiaan tanpa dasar, yang menenggelamkan kita kepada lautan ekspektasi tanpa sadar.

 “Belum, masih menunggu kamu pulang.” Aku mengirim pesan balasan sambil berdoa dalam hati, semoga malam ini kami bisa mengobrol. Tak sanggup rasanya kalau harus menunggu esok hari.

Ada jeda kurang lebih dua puluh menit sampai balasannya kuterima.

“Kenapa menunggu aku pulang? J

Lagi-lagi aku tersenyum sendiri. Untung hanya ada aku di kamar ini. Kalau tidak, pasti sudah sejak tadi aku diseret ke rumah sakit jiwa.

“Boleh mengobrol?” Dengan lincah aku mengetik pertanyaan tersebut, kemudian mengirimkan kepada dia yang bertanya di ujung sana. Jantungku berdetak dua kali lebih cepat saat melihat kerlip merah yang menandakan balasan pesanku datang.

“Tentu saja, tapi harus mulai dari mana?”

Aku diam sejenak. Kemudian mengetik balasannya, “Nama, mungkin?” Karena selama ini, yang terbayang di kepalaku adalah sesosok kucing hitam berdasi yang sinis tapi pintar, seperti yang tergambar pada display picture-mu.



*fiksi
*gambar diambil dari sini, terima kasih.

eh, siapa yang bisa tebak inspirasinya? 
:P

7 comments:

  1. si PERVIE?

    PERVERT AUDITOR?

    bukannya ceceh udah punya pacar ya ceh?
    >___< emang si pervie itu si roy?

    ReplyDelete
    Replies
    1. MUAHAHAHA SERATUS BUAT SHANDO :*

      itu fiksi oooy itu fiksiiii :))
      bukan roy bukan pervie, aku kagak tau pervie itu sapah :))

      pacar akoh si sendal jepit hitam, bukan kucing hitam :3

      Delete
    2. Sendal jepit hitam? bukan sekarang sendal jepitnya udah abu-abu ya. Kan kemaren putus waktu sama bang Tirta waktu jalan-jalan beduaan.

      Delete
    3. hihi iyaaah, sekarang sudah jadi sandal jepit abu-abu :) terima kasih sudah mampir! :D

      Delete
  2. Replies
    1. Thank you yaa :)

      Terima kasih sudah main-main :*

      Delete