Tuesday, 9 April 2013

Mengapa Kami Berbeda (,) Tuhan? - Cerpen

DISCLAIMER :
Cerpen ini dibuat berpasangan dengan wacana tak bermakna tentang Mengapa Kami Berbeda (,) Tuhan? :)

-

“Pulang yuk, aku besok harus ke Gereja kan…”

Ia hanya mengangguk, kemudian mengacak rambutku. Kami berdua berjalan menuju mobil, masih berpegangan tangan erat. Seperti menolak dipisahkan waktu yang entah mengapa terasa berputar terlalu cepat. Ia membukakan pintu mobil dan mempersilakan aku masuk.

“Nanti sampe di depan komplek aja ya?” ujarku hati-hati.

Ia mengerutkan kening. “Udah malem lho, nggak mau di depan rumah aja? Aku nggak masuk kok.” Jawabnya. Matanya menatap lurus ke jalan raya di hadapannya, namun terdengar getir mewarnai suaranya.

“Aman kok, aku nggak akan kenapa-kenapa kalo udah di dalem komplek. Supaya kamu nggak muter-muter juga, kan?”

“Tapi kamu jalan sendirian kan… Udah malem banget ini…”

“Tapi kan di dalem komplek…”

“Kenapa sih kalo aku anterin sampe di depan rumah?”

“…”

Aku diam. Jawabannya sudah menggantung di lidah, tapi aku terlalu takut mengungkapkannya.

“Aku nggak minta diperbolehkan untuk mampir dan bertamu kok.” Ujarnya berat, kemudian menghela nafas. “Aku cuma nggak mau kamu jalan sendirian malem-malem begini. Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa.”

“Tapi mama nggak tau aku jalan sama kamu…” jawabku, hanya di dalam hati. Nelangsa.

Perdebatan yang sama, dingin dan diam yang sama setelahnya. Suasana yang selalu terasa dihampir setiap perjalanan pulang setelah kami menghabiskan waktu bersama. Hal-hal kecil yang menimbulkan luka perih tersendiri, karena batasan-batasan yang tidak boleh kami langgar. Ada rahasia yang tetap harus tersimpan rapi, karena perbedaan di antara kami.

“Fi?”

Aku menoleh ke arahnya. Ia melirikku dengan sudut mata, kemudian bertanya lagi, “Boleh ya?”

Aku hanya mengangguk singkat. Tidak kuasa menolak. Hanya menyiapkan hati untuk bentakan yang menungguku di rumah.

***

“Kamu masih jalan sama dia?”

“Cuma nganterin pulang aja kok ma, pas nontonnya kan rame-rame juga…” Kebohongan pertama, aku menghitung dalam hati.

“Kenapa dia yang nganterin kamu pulang?”

“Kan cuma Gerry yang searah sama Fifi ma…” Kebohongan kedua, rumahnya jauh dengan rumahku, ia malah harus berputar-putar untuk mengantarku.

“Kamu nggak ada hubungan apa-apa kan sama dia?”

Aku diam, kemudian menjawab dengan nada lelah yang tersirat, “Nggak ma… Cuma temen…” Kebohongan ketiga, dan yang paling menyakitkan. Bisa jadi yang terakhir, kalau mama puas dan langsung percaya dengan jawabanku. Tapi malam ini sepertinya…

“Jauhi dia. Kamu ngerti?” Tandas mama. Tajam. Bahkan untuk menyebut namanya saja beliau enggan. Kemarahan berkilat dikedua bola matanya, menangkap dusta yang jelas terbungkus oleh jawaban-jawabanku. Segores luka baru mewarnai hatiku. Pedih.

“Tapi ma…” Aku tidak tahan lagi.

“Jauhi dia. Sudah nggak ada lagikah laki-laki lain, sampai kamu harus memilih dia? Sampai kapan mau bohongin mama? Memangnya mau kamu bawa kemana hubungan kamu? Mama nggak mau lihat dia ada di deket kamu lagi. Jauhi dia, Fi!” Final. Keputusan yang tidak lagi bisa ditawar. Kemudian beliau melangkah keluar dari kamarku, menyiratkan ia tidak lagi mau berdebat, apalagi dibantah.

***

Aku memeluk Owie, boneka kucing pemberian Gerry. Sudah berada di dalam selimut, bersiap-siap memejamkan mata dan tidur, namun otakku tak mau berhenti berpikir. Ada kesakitan yang terasa sangat tajam di hati. Ada kegelisahan yang sulit untuk dijelaskan. Ada ketakutan yang tiba-tiba menyergap. Ketakutan akan kehilangan. Ketakutan akan kesendirian. Ketakutan akan pupusnya sebuah harapan. Ketakutan akan… kenyataan. Kenyataan bahwa pada akhirnya, semuanya akan terjadi. Siap atau tidak, mau atau enggan, waktunya akan datang, di mana aku harus mengembalikan semua yang kupinjam sementara, demi hari-hari penuh senyum dan tawa.

Aku memejamkan mata, berusaha sekuatnya untuk mengusir bayangan itu dari kepala. Tapi terlambat. Satu tetes air mata mengalir turun membasahi bantal, yang kemudian disusul dengan yang kedua. Dalam diam, tangisku pecah. Tidak sanggup lagi menanggung semuanya sendirian. Bagaimana caranya aku bisa memilih dua hal berbeda yang tidak mungkin aku tinggalkan salah satunya?

Hanya masalah kapan sampai waktu merenggutnya dari pelukan. Hanya tinggal siapa yang lebih kuat untuk bertahan. Hanya sampai ada yang akhirnya memilih sendirian. Hanya akan tersisa sebuah harapan yang tak lagi bertuan. Entah untuk apa, entah untuk siapa.

Ponselku bergetar, muncul nama Gerry di LCD.

“Halo?” ujarku refleks setelah ponsel menempel di telingaku.

“Lho, kamu nangis?”

Gerry terlanjur menyadari suaraku yang serak. Percuma berkilah, dia tidak akan percaya dan malah akan menuntut alasannya.

“Dimarahin mama lagi?”

Tanpa sadar aku mengangguk pelan. Kemudian menjawab, “iya…”

Terdengar helaan nafas di ujung sana.

“Sampe kapan kita begini?” tanyaku lemah.

Ia diam. Jauh di dalam hati, kami berdua sama-sama mengakui ketidaktahuan. Seirama dengan ketidakberdayaan untuk menemukan jawaban.

***

Aku memandangi hot chocolate-ku. Memilih menunduk menyembunyikan risau yang tergambar jelas. Padahal seharusnya, mungkin yang kulakukan adalah memandangi wajahnya puas-puas. Merekam suaranya dalam hati, dan memutarnya kembali suatu saat nanti kalau rindu mulai mengaduk-aduk sanubari. Menikmati genggaman tangannya yang hangat dan menenangkan. Bukan malah menikmati sunyi seperti ini.

“Fi?”

Aku mengangkat mukaku. Diikuti dua bulir air mata yang mengalir.

Detik berikutnya, aku sudah menangis dipelukannya. Memuntahkan seluruh kekhawatiran, dan ketakutan yang sejak semalam menghimpit tanpa mampu kutahan, saat aku mengumpulkan keberanian untuk sebuah keputusan akan kehilangan.

“Apa yang bisa bikin kamu berenti nangis terus begini, Fi?” tanyanya. Pedih menggores hatiku ketika mendengar nada bicaranya. Ia tahu jawabannya, namun masih mempersiapkan diri untuk mendengarnya dari bibirku.

Ia melonggarkan pelukannya, sampai wajahku terlihat.

“Kamu mau aku pergi?” tanyanya. Pelan, tapi terdengar. Hati-hati, seolah aku akan segera hilang ditelan kesunyian.

Aku diam. Lagi-lagi membiarkan sepi yang menguasai keadaan. Berharap akan memberiku sedikit kekuatan untuk mematahkan harapan yang sudah satu tahun tersimpan. Berharap kejatuhanku tidak akan terlalu fatal.

“Kamu nggak capek?” Aku balik bertanya.

Ganti ia yang diam, dan diamnya aku terjemahkan sebagai persetujuan. Sejenak, marah dan kecewa menguasai diriku. Namun hanya sejenak. Detik berikutnya, aku menyadari, dia punya hak. Sama seperti aku punya hak untuk mengambil keputusan. Membebaskan kami berdua dari rasa lelah ini. Membebaskan kami berdua dari rasa takut yang selalu membayang. Membebaskan kami dari rasa bersalah yang menekan.

“Kita harus pisah…” kataku diiringi helaan nafas berat.

Ia masih diam. Hatiku memanjatkan permohonan sebuah permintaan untuk tetap tinggal yang akan terucap. Hatiku berbisik, bahwa harusnya bukan seperti ini akhirnya. Hatiku memperingatkan, bahwa kali ini, tidak akan ada lagi tempat untuk berlari dari kesakitan. Terpaksa berteman dengan sendiri dan sepi yang menghampiri tanpa kuasa aku tahan.

Diamnya, menjadi jawaban final yang akhirnya aku dapatkan. Kejatuhan besar. Kesakitan dalam.
Dari jauh, terdengar bunyi Adzan Magrib berkumandang. Ia bangkit, melepaskan tangannya yang masih di pinggangku sedari tadi, menarik serta sepotong hati yang sempat ia titipkan padaku setahun lalu. Tidak ada salam perpisahan yang mampu terucap.

Kami berdua membisu, ia mengambil air wudhu, dan aku melangkah pergi dari kamar kosnya setelah sebelumnya menutup pintu. Ia berdoa pada Tuhan-Nya di dalam kamar, aku mengemis sebuah kekuatan dari Tuhan-ku dalam perjalanan pulang. Untuk sebuah harapan yang baru saja kandas. Untuk sebuah mimpi yang baru saja hancur. Untuk dua potong hati yang baru saja patah. Untuk air mata yang masih belum mengering. Untuk kenyataan pahit yang ternyata tidak selamanya mampu disembunyikan. Untuk rindu yang mulai hari ini, akan selalu tertahan. Untuk sebuah cinta dengan alas perbedaan.

6 comments:

  1. Replies
    1. Thank you :)

      and thank you for reading :)

      Jangan bosen2 main ke sini ya :*

      Delete
  2. Nama gerry terinspirasi nama juara standup season 2 ya ? :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha :D

      engga kok, itu tiba-tiba nama yang kepikiran Gerry, hihi :D

      Terima kasih sudah main-main ke sini yaa :)

      Delete
    2. alam sadar mengatakan demikian, namun tidak dengan alam bawah sadar.. #maksa.com 0:)

      Delete
    3. hihi iya bisa jadi sih :P :P

      Delete