Saturday, 20 April 2013

Lima Puluh Tahun

"Pa, kok mukanya seram begitu?"

Beliau kemudian meraihku ke dalam pelukannya. "Papa capek, sayang. Kan baru pulang kerja..." Ujarnya, kemudian tersenyum.

Aku mengerutkan kening. Belum mengerti. Kerja itu, bikin capek ya? Ah! Tapi aku tahu obat untuk capek!
"Aku pijitin ya pa?" tawarku.

"Wah, bener nih?"

"IYA! Tapi nanti beliin aku baju barbie ya?"

-

16 tahun kemudian

"Periksa ke dokter ya?"

"Nggak usah ah, normal kok, kan masih 21 hari. Aku tadi browsing, emang nggak pasti 1 bulan pa... Bisa 23 hari, bisa 27 hari, tergantung..."

Terdengar helaan nafas berat, yang kemudian disusul nasehat dan belaian sayang di kepalaku, "Jangan stress ya..."



"Nggak mau, nggak mau, aku nggak mauuuuuu!"

"Lho, nanti kalo nggak
sembuh-sembuh gimana? Papa janji, temenin kamu setiap hari di sini... Kamu nggak bakalan sendirian di rumah sakit... Mau makan apa? Papa beliin ya?"

-

9 tahun kemudian

"Kamu pulang aja sama Owen ya, biar papa yang jaga mama..."

"Tapi papa udah dua malem nggak tidur kan? Katanya besok mau kerja?" Tanyaku khawatir.

"Nggak apa-apa, papa masih kuat kok..."

"Nanti papa sakit juga lho, terus-terusan tidur di bangku kaya gitu..." Aku mengingatkan.

"Nah apalagi kamu kan?"

"..."



"Maunya ke mana?"

"Puncak pa! Puncak!" ujarku bersemangat.

"Udah siap-siap emangnya?"

"Udah dong! Aku bawa guling jelek boleh ya?"

-

14 tahun kemudian

"Kamu nggak mau ikut?"

Aku menggeleng pelan. "Tabunganku juga belum cukup pa... Next time, mungkin..."

"Papa yang bayarin, kamu mau ikut kan?"

"..."

***

Ada yang berubah.

Kerutannya semakin bertambah. Kebijaksanaannya semakin membuatku kagum. Karirnya menanjak. Ia tidak lagi kuat menemaniku belajar hingga tengah malam. Ia tidak lagi suka mengajakku nonton DVD sepulangnya ia dari kantor. Ia tidak lagi ingin berpergian di hari Sabtu. Ia hanya ingin istirahat lebih banyak. Tubuhnya mulai mudah lelah.

Ada yang tetap sama.

Perhatiannya pada kesehatanku. Bawelnya tentang sayur dan buah. Tegasnya dalam mendidikku. Nilai-nilai yang ia pegang teguh sejak dulu, yang kemudian ia wariskan padaku. Pengertiannya. Prioritasnya, keluarga. Kasih sayangnya. Cintanya.

Hari ini, beliau genap berusia lima puluh tahun. Pria yang dulu gagah itu, kini mulai mudah lelah. Pria yang mencintai travelling itu, kini lebih rajin menabung rupiah, agar bisa mengajak istri dan anak-anaknya pergi ke tempat-tempat baru di dunia. Pria yang dulu menenangkanku saat aku terbangun karena mimpi buruk, kini menjadi orang tempat berbagi mengenai nilai-nilai hidup. Pria yang dulu selalu memikirkan uang sekolahku, kini mulai bertanya tentang rencana masa depanku. Pria yang dulu mengajarkanku untuk berhati-hati dalam bergaul, kini menerima laki-laki yang akan mendampingiku di sisa hidupku, duduk sampingnya.

Dua hal yang akan selalu ada. Kecintaan dan kebanggaanku, akan sosoknya.

Selamat ulang tahun pa.
Panjang umur dan selalu sehat.
Sukses dan bahagia.
Aku bakalan tepatin janjiku, kita ke New Zealand sama-sama ya. Aku yang bayar! :D
Tapi papa harus sehat terus ya. :)





Selalu teriring doa dan permohonan untuk
kebahagiaan dalam kehidupan,
dan kekekalan di Surga kelak,


Sarah Puspita Lukman

*gambar di ambil dari sinisini dan sini. Terima kasih.

5 comments:

  1. happy birthdaay omm :) ngefans sama om, baca tulisan sarah ttg om hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. HOREEE!! terima kasih ya sayaaaaang :*

      ihihihi *malu*

      Delete
  2. Replies
    1. Trim's ya Shinta meski om telat baca. Sarah gak kasi tau om..tp dia yakin satu wkt, papanya pasti baca blognya. Gbu

      Delete