Monday, 29 April 2013

How I Met Him

Takdir adalah ketetapan dan ketentuan Tuhan.
-KBBI

Kamu percaya takdir? :)

Gue selalu berkeras kalo dalam hidup ini, kitalah yang menentukan dan mengatur segalanya, bukan hanya mengikuti path yang sudah ada, termasuk juga urusan cinta. Nggak pernah terpikir kalau takdir akan mengambil peran besar, mempertemukan gue dengan seseorang.

Kami bertemu di linimasa. Semuanya bermula dari iseng-iseng akun anonim tergaul, @pervertauditor, lelang auditor, dan sebuah mention dari seorang asing di twitter (Bukan, isinya bukan : Foblek eaaah ceceeeeh~). Dari 14.691 peserta lelang aktif maupun pasif, entah bagaimana, dialah yang mengetik sebuah reply untuk tweet gue yang baru saja di retweet oleh sang admin.

Setelah saling follow, percakapan kami pindah ke tab DM, yang kemudian berlanjut ke sms dan whatsapp, hingga akhirnya ngobrol di telepon berjam-jam.

Ada kecocokan yang menyenangkan di antara kami berdua. Mungkin karena kami sama-sama Virgo. Mungkin juga karena kami memiliki kesamaan pola pikir. Atau mungkin juga karena dia tahu apa saja. Banyak random things di kepalanya, yang nggak jarang membuat gue cengo. Kok ya kepikiran aja, nyari tahu sejarah nama Glodok, atau satu-satunya mamalia yang nggak bisa loncat?

Masalah dimulai karena gue kenal dia di twitter. Dan selayaknya manusia-manusia lain yang sudah cocok mengobrol di segala jenis media sosial, gue dan dia juga sama-sama penasaran, bagaimana rasanya bertatap muka. Masalahnya, mengalahkan ketakutan gue nggak semudah membalik telapak tangan. First date is horrible, but blind date worst. Di tambah lagi, gue masih dikejar-kejar sama proposal skripsi yang deadline-nya udah menghitung hari.

Sampai akhirnya gue terpojok di antara capek karena kerjaan, pingin nonton, kebetulan sendirian, dan dia ingin menemani. Karena nggak ada alasan untuk mengelak lagi, akhirnya gue iyakan. Janji sudah dibuat, jam sudah ditentukan, meeting point sudah diatur. Setelah Jumat malem riweh setengah mati milih baju, Sabtu pagi, gue berangkat setengah jam lebih awal dari waktu yang disepakati. Keputusan yang salah, karena hanya bikin pikiran-pikiran aneh seliweran di otak gue, seperti:

“Kalo ternyata dia orang jahat gimana?”

“Kalo nanti lo dibawa ketempat aneh gimana?”

“Kalo nanti nggak ngenalin gimana? Avatar twitter-nya kan pake kacamata item?”

“Yakin nggak mau pulang aja? Pura-pura berhalangan, gitu? Toh doi belum tau lo udah di sini.”

Gue terlalu sibuk ngusirin imajinasi berlebihan di kepala, sampe nggak sadar, jam sudah menunjukkan pukul 11.15. Nggak lama, sebuah pesan masuk. Dia lagi parkir. Gue langsung ngibrit ke toilet, benerin make up *ciaelah* sambil ngomong sama kaca, jangan berbuat bodoh ya. Kali ini aja, don’t screw everything’s up.

“Lights will guide you home, and ignite your bones, and I will try…”

Gue langsung menatap sewot ke arah speaker toilet. Kenapa juga harus lagu yang pernah doi nyanyiin di telepon sih? Bikin tambah nervous aja.

Tempat Kami Pandang-pandangan! :D

Kami bertemu di sebuah toko buku, dihubungkan dengan sebuah sambungan telepon singkat. Ia muncul dari balik sebuah rak buku anak-anak, dengan senyum menawan *apalah ini senyum menawan*. Dengkul gue lemes. Hati gue mengingatkan, jangan-berbuat-bodoh. Jangan malu-maluin. Jangan. Gugup mulai menjalari seluruh persendian otot gue.

Setelah jabat tangan perkenalan dan basa-basi, dia diem seribu bahasa, dan mempersilahkan gue untuk bawel sepuasnya di saat gue juga masih repot mengusir nervous. Hilang sudah kecocokan yang sudah kami latih berjam-jam di telepon. Komunikasi hanya berjalan satu arah, gue cerita panjang lebar dan err… ngelantur –karena gugup, dan dia mendengarkan.

Setelah nonton dan ngemil, dia ngajak ke Cikini. Karena dia suka banget sama Cikini dan gue nggak tau tempat itu sebelumnya, akhirnya gue mengiyakan ajakannya untuk jalan-jalan ke sana. Di perjalanan menuju ke Cikini, hujan dan kami terjebak macet, dan dia masih kekeuh mengheningkan cipta. Bahkan sampai akhirnya list topik di kepala gue hampir abis. Sisa yang terakhir, blog dia. Entah bagaimana, topik terakhir ini mampu menarik keluar seluruh antusiasme dan nyambung-nya kami. Suasana awkward pergi, digantikan dengan lelucon dan derai tawa. Gue menghela nafas sambil tersenyum dalam hati. Dari tadi, kek.

Sesampainya di Cikini, hujan masih turun. Dia membimbing gue menuju ke sebuah kedai kopi. Berdua berjalan di bawah satu payung. Kemudian duduk di dekat jendela, menikmati secangkir teh dan cokelat hangat, sambil mulai bertukar cerita, seputar kehidupan, pekerjaan, sampai seseorang yang pernah singgah di masa lampau. Kenyamanan, pelan-pelan menyusup di antara pembicaraan kami. Melahirkan rasa bahagia yang membuat gue enggan berhenti menghabiskan waktu bersama.

Kami meninggalkan dua cangkir kosong dan berjalan kaki menuju TIM. Dia membawa gue, untuk pertama kalinya, menginjakan kaki di pelataran Teater Jakarta. Reaksi gue? Jangan ditanya noraknya. Dua puluh satu tahun hidup dan lahir di Jakarta, baru hari itu tau kota tercinta ini punya teater. Kirain Singapore doang.

“Gilaaaa! Gue baru tau Jakarta punya teater juga! Ya ampun, kemana aja gue selama ini…”

“Mungkin belum ketemu orang yang tepat aja buat ngajak ke sini…”

“Ermm, so are you saying that you’re the right one?”

“Hmm… Well... We’ll see...”

“…”

Lewat canda dan tawa yang kami nikmati berdua, percakapan hangat dan kenyamanan yang tercipta, muncul keengganan untuk mengakhiri kebersamaan. Seharian, kami menghilang dari linimasa. Sayang, akhirnya malam datang. Gue menyesal, karena waktu rasanya terlalu cepat berputar. Percakapan panjang kami mau tidak mau harus selesai.

Gue diantar sampai di rumah dan diam lama setelah pintu tertutup. Sepuluh jam yang menyenangkan. Terlalu indah untuk jadi nyata.  Mungkin baiknya gue jadikan kenangan, bukan harapan.

Too perfect to be true. Too sweet to be real.
He is… somehow too far to be reached.

Untuk alasan yang gue belum tahu pasti, ada perasaan sedih yang datang menghampiri.

Gue masuk ke ruang tamu dan melihat Owen (ade gue –red) sedang serius menonton sebuah pertandingan sepak bola. Berjalan melewati TV, gue melirik sejenak ke layar kaca. Lho.. Eh? Liverpool?

Spontan, gue mengetik sebuah pesan kepada fans berat klub bola itu, yang sekarang sedang berada di perjalanan pulang:

Why didn’t you tell me kalo ada pertandingan Liverpool? Kan bisa balik pagian L

Beberapa menit kemudian balasannya masuk:

I won’t trade our 10 hours with anything. Not even Liverpool games.”

Gue tersenyum. Bahagia ini, ternyata bukan cuma milik gue aja.

Mungkin iya, takdir memang ada. Berawal dari tegur sapa seorang asing di linimasa, dihubungkan dengan puluhan pesan-pesan singkat, melewati ratusan menit dengan bincang-bincang seru di telepon, akhirnya ia bergerak memutuskan untuk mempertemukan kami berdua, dan membiarkan kami menikmati waktu-waktu bersama. Entah ke mana hubungan gue dan dia bermuara, semuanya (saat itu) masih rahasia.

***

“Ceweklah.”

“Eh? Bukannya cowoknya yang harus sms duluan? Kalo cowoknya sms, itu artinya dia tertarik untuk melangkah lebih jauh.”

“Kan si cowok yang ngajak, jadi si cewek yang harus ngasih kesan duluan sesudah first date. Cowoknya nunggu. Kalo nggak disms, ya berarti… selesai di sana.”

Seandainya malam itu nggak ada pertandingan Liverpool…

Ah. Lagi-lagi. Takdir.

***

baca juga versi doi di sini :D

Mengapa dia? :)

15 comments:

  1. hai Sarah, salam kenal.. :D you're so cute and I enjoyed reading this post. I wish I were less coward to post such thing just because I know my bf wouldn't tell his version..... :p

    Happy loving with Roy yaaa :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Puty :D

      Terima kasih ya, credit for Roy, idenya dari dia, dan dia juga yang banyak kasih input untuk postingan ini :)

      Hihi ayok cerita juga! :D :D

      Terima kasih (lagi) sudah main-main ke sini yaaa :D

      SENANG! :D

      Delete
  2. hahahaha.... gara2 baca postingan "10 Alasan Mengapa Gue dan Dia Mustahil Ketemu" gw jadi ngbaca ini... trus abis baca ini, jadi pengen liat blog cowo lo... Hahahaha... Kalian seru bgt!!
    keep sharing...

    ReplyDelete
  3. Replies
    1. Hihi. Thank youuuu :D

      Thank you for reading also :D

      Delete
  4. halo sarah! diriku ber-"ooohh-ooohhh" ria lho membaca postingan ini, super sweet!! longlast yaaaa kalian... hihihihi :)))

    @finnysamantha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank you sudah main ke sini ya sayang!

      Amin untuk doa-doanya :"

      Terima kasih! (:

      Delete
  5. ehh yg dceritain dsolaria kuningan city dbaca dblog jg,,awsome love story =D

    ReplyDelete
    Replies
    1. MBAK RIAAAAA :*

      Hihihi mamacih mbak :3

      Delete
  6. Eaaaa...

    Ketahuan deh, kayaknya pas di kedai kopi, bang Roy yang minum teh. :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Abis baca postingannya bang Roy, ternyata dia yg minum cokelat :|

      Delete
    2. hihi. IYAAAAA :D

      aku yang minum teh :>

      Delete
  7. Lovely ~
    Ketika takdir bicara yah..

    ReplyDelete