Monday, 15 April 2013

Hitam, Putih, Sama.


Gue orang Indonesia dengan keturunan Chinese yang manyun kalo dipanggil orang Cina. Gue –entah kenapa– lebih suka disebut orang Indonesia. Saja. Lebih seneng lagi kalo disebut orang bule sih. Lha wong gue lahir dan tumbuh di sini kok. Cina-nya mah turunan aja, karena papa-mama dan oma-opa gue Cina, maka gue Cina. Sama kaya karena papa-mama hidungnya pesek, gue juga pesek. Papa-mama cakep, gue juga cakep. (ahem!)

Hanya itu aja. Bahkan gue nggak bisa ngomong, nulis, dan ngerti Bahasa Mandarin. Nggak jago ngitung, nggak tinggal di daerah Kota dan Mangga Dua, belum jago masak (berencana akan :P), ngitung uang juga nggak bisa cepet dan tepat kaya mesin ATM. Yang tersisa dari darah Cina gue cuma gue dan online shop tercinta.

Gue nggak sipit, mata gue punya lipetan (nyenyenyenye) dan cenderung besar, nggak kaya orang Cina kebanyakan. Kulit gue cokelat muda, nggak putih kaya tahu atau tembok. Rambut gue cokelat tua, bukan hitam legam kaya keturunan Cina pada umumnya. Nggak dicat blonde juga.

Trus di mana Cina-nya?

Kenapa ya gue harus dikotakkan sebagai ‘Cina’, padahal gue lahir di Indonesia juga, sama dengan yang mungkin asli pribumi? Terus terang, kadang ini mengganggu. Semengganggu ketika gue mendengar ada orang Indonesia keturunan Cina yang mengkotak-kotakkan pergaulan anaknya.

Mami angkat gue orang Batak, punya seorang anak perempuan yang cantik dengan kulit hitam manis, namanya Naomi. Sepulang sekolah, tiba-tiba Naomi ini murung. Ketika mami angkat gue nanya kenapa, dia menjawab pelan, “Si Anu (Teman Naomi, keturunan Cina, gue lupa namanya) nggak mau main sama aku, ma, soalnya kata mamanya dia kulit aku hitam, nggak putih kaya dia…”

God’s sake, Naomi ini masih SD, dan salah seorang temannya sudah diajarkan sama orang tuanya untuk mengkotak-kotakan ras dalam pergaulan. Mau jadi apa gedenya? (--,)

Padahal kita kan sama. Sama-sama lahir, tinggal, dan hidup di Indonesia. Sama-sama minum air dari tanah ini. Kenapa sih harus membeda-bedakan? Kenapa harus menegaskan perbedaan seolah nyata, sedangkan itu hanya masalah latar belakang keturunan? Parahnya lagi, menjadikan perbedaan keturunan itu untuk mengelompokan orang-orang, mengucilkan sebagian kelompok, dan merasa diri dan kelompoknyalah yang paling baik.

Come on, ini udah 2013, Indonesia udah merdeka dari 1945, kenapa sih masih ada yang belum bisa merdeka dari membeda-bedakan sesama manusia?


*gambar diambil dari sini. Terima kasih :)

6 comments:

  1. ya sering terjadi seperti itu. jujur orang tua gue juga seperti itu, tapi karena gue multiras jadi ga terlalu dikotak-kotakan sih. palingan yang jangan temenan terlalu deket sama orang non islam, tapi toh gue tetep punya temen-temen yang non islam.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gue selalu percaya kita bisa belajar dari siapa aja, orang mana aja, kebudayaan apa aja. Semakin berbeda, semakin banyak yang bisa kita ambil untuk dipelajari.

      Orang tua gue, entah karena apa juga terkadang begitu. Tapi paling enggak gue menghindari berfikir seperti itu :)

      Terima kasih sudah mampir dan membaca yaa :)

      Delete
  2. Suka ato ga suka, menghilangkan perbedaan itu ga bagus, dan akan berujung pada konflik.. contoh yang paling simpel, coba aja kalo wc cewe digabungin sama wc cowo, apa masih mau bilang kalo membeda2kan itu harus dihilangkan? :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Perbedaan nggak akan pernah bisa hilang sih, hanya bisa diterima dan rasanya tidak perlu dimunculkan terus menerus ke permukaan, kan? :)

      Khususnya untuk ras, kita semua di mata Tuhan sama kok, kenapa harus mengkotak-kotakan dan menganggap golongannya paling baik, kan?

      hehehehe :D

      Terima kasih sudah main2 dan membaca ya :3

      Delete
  3. Cuma mau komen, apa yang selama ini kita lihat itu kadang merupakan reaksi dari aksi yang sebelumnya. Mungkin mereka mengkotak-kotakan seperti itu sebagai akibat dari trauma masa lalu yang dipupuk dan akhirnya diturunkan ke anak-anaknya.

    Gw lahir dan besar di lingkungan yg sangat Chinese sekali, tapi beruntung gw berkuliah di tempat yang multi etnis, ada Jawa, Batak, Sunda, China, Medan, Jambi, Palembang, dll. Jadi akhirnya gw bisa belajar dari teman-teman gw ini bagaimana keluarga mereka memaknai perbedaan latar belakang keturunan ini. kadang ada alasan tertentu dari setiap kelompok etnis ini yang membuat mereka menjadi saling mengelompokkan.
    Terlepas dari semua itu gw sendiri menganggap perbedaa itu indah, dari perbedaan inilah kita bisa belajar saling menghargai..

    Nice post!

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyah, setuju sih, pasti ada ya latar belakangnya, cuma gue pikir, kalo terus menerus seperti itu, kapan selesainya? :(

      He eh, kita sebenernya bisa belajar dari siapa aja kan ya, nggak harus dari yang sama ras atau agamanya :) Banyak banget di luar sana orang2 yang walaupun berbeda, tapi hebat dan patut dijadiin teladan :)

      Setuju! Perbedaan itu indah, dan dari sanalah kita belajar saling menghargai :)

      Terima kasih sudah main dan membaca yaa :D

      Delete