Saturday, 6 April 2013

Cinta (Tidak) Sama Dengan Memiliki


Pernahkah elo mengalami keadaan di mana elo stuck sama seseorang? Cinta mati. Doi kaya ada magnetnya, gimanapun elo berusaha keras untuk bilang, “I’m totally completely utterly done with you!”, pada akhirnya hanya bertahan satu minggu. Atau satu bulan. Abis itu balik lagi ke tempat semula. Nggak bisa ke mana-mana. Sejauh apapun lo lari, lo akan tetap balik ke samping dia.

Sahabat baik gue, lagi ngalamin kejadian kaya gini. Gimana jatuh bangunnya dia untuk minta ‘dilihat’ sama mantannya. Mantannya yang sekarang udah punya pacar baru. Udah sibuk sama hubungannya yang baru. Sebaliknya, sahabat gue masih bertahan di situ. Nunggu mantannya sadar. Nunggu mantannya balik menghampiri dia. Gue, yang ngeliat gimana nelangsanya dia, kadang-kadang jadi nangis juga. Tau semua ceritanya, pengorbanannya, bikin gue sadar, kalo terkadang, nggak gampang mengenyahkan seseorang dari hati dan pikiran. Gimanapun kerasnya elo berusaha. He-eh, gue setuju kok, move on itu bicara niat dan kemauan, bukan kemampuan, tapi ada satu hal lagi yang namanya harapan. Dan niat lo yang 99% itu, bisa berantakan karena 1% harapan untuk perubahan dari orang yang elo sayang. Harapan untuk kembali ke pelukan.

Mantannya mantan gue (complicated much?), juga ngalamin hal yang sama. Dan lucunya, dia memilih untuk cerita ke gue. Dia belom bisa move on, dari mantan gue. Paitnya adalah, dia mau melakukan apa saja, garis bawahi, apa saja, untuk bisa balikan dengan sang mantan. Termasuk didalamnya, menonton sang mantan ketawa-ketiwi sama pacar barunya, dan menerima sang mantan berkeluh kesah waktu susah atau sedang ada masalah. Gila ya? J

Cinta. Hanya itu penyebabnya.

Gue dengan akal sehat yang masih utuh
saat ngedengerin dua manusia berbeda ini cerita, jadi bertanya-tanya sama diri sendiri, kalo sayang sama seseorang, apa harus mengorbankan diri sampai kejatuhan yang paling dalam? Kalo cinta sama seseorang, haruskah merelakan apa saja, termasuk kebahagiaan diri sendiri? Rasanya kok terlalu mahal.

Lalu? Apa cara mencintainya salah? Kalo hanya memikirkan kebahagiaan diri sendiri, cintanya egois dong?

Sederhana.

Bukan cintanya yang bikin sakit. Tapi rasa-ingin-memilikinya. KEDUA HAL INI, JELAS BERBEDA.
Menurut gue, konsep mencintai itu sederhana selama konsep itu murni. Belum dicampuradukan sama eskpektasi atau keinginan untuk memiliki. Sakit yang dirasa lebih kepada karena ketidakberdayaan untuk mengubah keadaan. Atau, harapan yang terlalu melambung ke awan.

Back to basic, konsep cinta di awal, itu hanya mencintai. TITIK. His / her happiness is yours. His / her sorrow is also yours. Being there when everyone else walk away. Mencintai. Tanpa ada keinginan untuk memiliki. Hanya memastikan dia baik-baik saja dan bahagia, sudah cukup. Lebih dari cukup. Tanpa punya kemauan besar untuk menjadi alasan dibalik terciptanya senyum di bibirnya. Lo ikut seneng waktu dia seneng, lo ikut sedih waktu dia sedih.

Nah, saat subjek perasaan lo ini seneng sama pacar barunya dan elo jadi sedih atau marah, something’s wrong with your love.

Lain lagi ceritanya kalo lo pingin doi jadi pacar lo. Doi jadi perhatian. Doi jadi romantis. Doi sayang sama lo. Doi ngebales cinta lo. It doesn’t mean you love him/her. It means you love yourself. Koreksi kalo gue salah ya, tapi semua itu fokusnya sama diri lo sendiri.

Instead, if you really love him/her, lo pasti pingin doi sukses, lo pingin doi bahagia, lo seneng liat doi ketawa, lo selalu ada buat doi kapanpun dia butuh teman bicara. Berdoa buat dia, karena sepenuhnya ngerti Tuhan maha penjaga, dan lo hanya ingin dia baik-baik saja. J

Sederhana.

Love isn’t (that) complicated (by the way), people are. J

*catatan ini pernah gue post di Tumblr J

No comments:

Post a Comment