Monday, 18 March 2013

Random Act of Kindness - Part 2

DISCLAIMER:
Postingan ini dibuat berkaitan dengan RAoK Part 1 (:

Tada!

Masih nggak jauh-jauh dari Random Act of Kindness yang gue bahas di sini, kali ini gue mau mengupas lebih dalam tentang Random Act of Kindness, tapi yang lebih berkaitan dengan orang-orang di sekitar lo, dalam lingkup yang lebih sempit lagi, orang-orang yang lo kenal.




Buat yang belum tau, random act of kindness nggak melulu tentang memberi sedekah kepada orang miskin, santunan kepada anak-anak jalanan, dan sebagainya loh J Random act of kindness itu bisa berarti melakukan hal apa saja, selama ada kaitannya dengan memberikan kebaikan untuk orang lain.

You give a hug to random people who need a support at hospital, that’s a random act of kindness.
You give your chair to random people you meet on the bus, that’s a random act of kindness.
You give your parking slot to random people on the mall (even if you find it first), that’s a random act of kindness.

Berbuat baik, sejatinya nggak pernah susah,
selama lo mau menyingkirkan egoisme lo sejenak. Bergeser sedikit dari zona nyaman lo untuk menyamankan orang lain. Percayalah, senyum bahagia yang terlukis di wajah dan ungkapan ‘terima kasih’ yang terucap dibalut ketulusan mendalam itu tidak ternilai harganya. Kalau melihatnya di wajah orang-orang yang baru kita kenal saja sudah sangat menyenangkan, terlebih jika senyum itu muncul di wajah-wajah yang selama ini Tuhan tempatkan di sekitar kita.

Papa mama, adik kakak, saudara, pacar, sahabat, teman, dosen, guru, tante, om, oma, opa, dan seterusnya. Mau berbuat sesuatu untuk mereka? Mau mereka tersenyum? Kenapa harus menunggu mereka ulang tahun? J

I’m gonna tell you my story, tentang salah satu sepupu gue yang bandelnya nggak ketulungan, sampe tiap kali ketemu sama nyokap atau tante gue, bawaannya diomelin melulu. Susah diatur lah, susah dibilangin lah, bahkan sampe sepupu-sepupu gue yang lainpun pada males main sama dia. Gue nggak tau sejak kapan, tapi dia jadi suka kelihatan sedih akibat penolakan-penolakan yang mungkin dia terima terus-menerus. Umurnya masih 5 tahun padahal, masih TK. Udah mau SD, tapi susah kalo disuruh belajar baca. Maminya sampe pusing L

Suatu hari (yaelah, suatu hari :D) gue lagi jalan-jalan ke Gramedia book fair yang diadakan di Tennis Indoor Senayan. Gue yang ke sana niatnya ngeborong novel, berenti di rak buku anak-anak yang isinya buku-buku cerita dengan gambar lucu. Bed time stories kebanyakan, yang akan gue baca di tempat trus gue kembaliin, karena nggak mungkin gue beli (abis buat apa?). Bergeser ke kanan sedikit, gue liat kumpulan buku pre-school. Belajar membaca, lancar berhitung, fasih bahasa Inggris, dan lain sebagainya. Entah kenapa, tiba-tiba gue inget dengan sepupu gue yang bandel ini. Akhirnya gue ambil sebuah buku belajar membaca untuk anak 5 tahun. Nggak mikir panjang lagi (yaiyalah, harganya cuma 10rb), gue bayar.

Hari minggu, pas ketemu, gue kasih ke sepupu gue. Doi seneng banget, mungkin karena selama ini jarang dikasih hadiah. Gue senyum-senyum aja, menurut gue biasa kok, sumpah deh, gue nggak beliin buku yang harganya selangit. Cuma buku sederhana, yang lagi sale. Yang baru gue tau minggu depannya adalah, maminya cerita sama gue, kalo sepupu gue ini jadi rajin belajar membaca. Jadi nggak susah kalo disuruh latihan. Dia seneng sama buku yang gue kasih, dan akhirnya bikin dia bolak-balik mau latihan dari buku itu.

10 ribu rupiah. Kita pasti sama-sama setuju, angka tersebut bukanlah angka yang terlalu besar. Gue beliin dia buku pun, nggak ada pikiran untuk membantu maminya supaya sepupu gue jadi rajin belajar. Gue beliin buku itu, karena murah, dan memang sepupu gue membutuhkan di umurnya yang 5 tahun. Hanya itu alasan gue. Impact-nya? Lo nilai sendiri sebesar apa. J

Dari apa yang lo punya, tanpa menunggu hari spesial, give something to your loved ones. Lihat senyum mereka. Rekam ekspresi bahagia yang terlukis di wajah mereka. Dengarkan ketulusan dan rasa syukur dibalik terima kasih yang mereka ungkapkan. Suddenly you’ll understand, it’s priceless.




Nb: Gue pernah denger ini dari seorang guru Sekolah Minggu gue di Gereja. “Orang mati nggak akan tau dia dirindukan, dihormati, disayangi, diperhatikan bahkan ketika karangan bunga sebanyak satu kilometer berjajar di depan peti matinya. Buktikan itu, justru selagi ia masih hidup.”\

Masih punya kesempatan kan? Nunggu apa lagi?

A tiny random act of kindness could make a huge impact in someone’s life, sometimes without you knowing it. -@sarahpuspita

*Gambar diambil dari sini dan sini. Thank you.

No comments:

Post a Comment