Wednesday, 20 March 2013

PDKT - Wacana Tak Bermakna

PDKT  adalah masa-masa yang paling manis dan menyenangkan. Saat-saat di mana pasangan rela melakukan apa saja untuk wanita yang dicintainya. Saat si wanita-nya melakukan berbagai hal manis untuk pasangannya. Saat setiap tempat yang dikunjungi, berubah menjadi taman bunga. Saat cinta terasa hangat karena baru saja menyapa. Saat perbedaan pendapat masih dapat dijembatani, segala kekurangan masih dapat dipahami.

Iyakah?


Dulu, saat gue ada di fase ini, yang gue pikirkan justru sebaliknya. Gue sangat takut.

Takut jatuh cinta (walopun udah -,-). Takut salah mengerti (we all know, PDKT is all about sandi kan?). Takut kege-eran. Takut ini hanya cara berteman orang kebanyakan. Takut perhatiannya bukan bermaksud sayang, melainkan bentuk nyata persahabatan (siapa bilang yg ngalamin being friendzoned cuma laki-laki?). Lebih dari segalanya, takut sakit, karena sesadar-sadarnya gue sadar, gue mulai sayang sama dia.

Kehilangan (bahkan) sebelum memiliki itu pedih tak terkira loh. Masalahnya nggak bisa. Lo nggak bisa bilang lo kehilangan orang yang nggak pernah lo miliki kan? Lo nggak bisa nyalahin dia, kalo pada akhirnya lo hanya ditempatkan nggak lebih dari seorang sahabat. Lo nggak bisa nyalahin siapapun. Yang lo bisa lakukan, hanya berbalik, memaafkan, dan menganggap semuanya hanya kebodohan lo.

(Anyway gue berbicara di sini kalo si cowok nggak maksud mem-PHP-kan yaaa. Kalo masalahnya si cowok PHP, itu mah blog post yang ini :D)

Ini yang saat itu memenuhi kepala gue. Mencoba mengerti pun nggak banyak membuahkan hasil, karena seperti yang kita ketahui, standar semua orang berbeda-beda, kan? Cara berteman dan bersahabat setiap orang juga berbeda-beda. Perlakuan manis yang lo artikan lebih, belum tentu maksud yang mau diutarakan memang seperti itu. Perhatiannya, belum tentu berniat untuk memberi lo signal kalo dia juga tertarik. Percayalah dears, belum tentu, bahkan jika elo nggak dideketin sama seorang PHP yang brengsek. They don’t mean to hurt you. Cuma kadang kita salah mengartikan, salah mendefinisikan, akhirnya kege-eran dan berujung perih sendirian.

Tapi kembali lagi, it’s all about perspective.

Gue adalah tipe orang yang sangat gampang memikirkan dan memproyeksikan kemungkinan terburuk dari sebuah situasi. Jadi begitulah pemikiran gue tentang PDKT. Momen di mana ketidakpastian nggak mungkin lo tuntut. Karena lo nggak berhak. Karena nggak ada hal lain yang bisa lo lakukan selain menunggu, dan berharap.

Di luar sana, atau mungkin elo, ada juga orang-orang yang hanya fokus dengan manisnya. Karena itu merupakan kelemahan sebagian besar wanita. Dan lo jadi rela melakukan apa aja, termasuk ngasih hati lo 100% ke orang yang belum tentu punya perasaan yang sama. Saat kepastian mungkin jadi hal yang paling lo harapkan, karena lo udah jatuh terlalu dalam.

Analogi gue tentang PDKT itu, ya roller coaster. Ibaratnya, lo akan naik sebuah roller coaster, dan mas-mas penjaganya bilang kalo roller coaster-nya baru aja dibetulin, jadi lo akan sampai dengan selamat, tanpa kurang suatu apapun. Lo pasti bisa naik roller coaster itu, jerit-jerit, ketawa-ketawa dengan tenang kan?

Di roller coaster yang sama, ketika lo mau naik, mas-mas penjaganya bilang kalo roller coaster itu sudah usang, jadi ada kemungkinan relnya akan putus, entah di bagian yang mana. Tapi bisa juga, lo kembali dengan selamat. Fifty fifty. Lo masih mau naik nggak? Kalo masih mau, kira-kira lo bakalan happy jejeritan, atau diem nungguin kapan relnya putus?

Betapa mahalnya arti sebuah kepastian keselamatan (hati) di sini.

PDKT hanya punya tiga ending. Bahagia, menyakitkan di salah satu sisi, atau menyakitkan keduanya. Hanya punya tiga kemungkinan. Pacaran / jadian, tetap jadi teman / sahabat, atau jadi musuh.

Kalo lo lagi ada di fase ini, nikmatilah. Harus gue akui, gue lagi ngeliat ke belakang, and I miss those moments. Karena pasti ada yang berubah, saat PDKT dan di masa menjalin hubungan dengan status pacaran. Perubahan pola pikir, tingkah laku, tindakan, perhatian, kesibukan, dengan sederet alasan dan faktor yang tidak lagi bisa ditawar. Percayalah, it happens.

Tapi kembali lagi, pertimbangkanlah sisa dari kemungkinan-kemungkinan yang ada, sepahit apapun itu. Persiapkan diri. Kalo lo ngerasa akan mati ketika jatuh dari ketinggian 500m, cobalah jangan berharap sampai ketinggian tersebut. Set your expectation, di mana ketika lo yakin kalopun lo jatuh dari situ, hanya akan berakhir dengan sakit yang bisa sembuh, bukan mati. Karena ada hal-hal yang nggak bisa kita atur di luar sana. Karena ada keadaan yang nggak bisa kita protes ketika itu terjadi. Nggak bisa disiasati selain dengan menyiapkan diri. Karena yang bisa menjaga hati lo, hanya diri lo sendiri.


Hope and pray for the best. But... prepare for the worst, girls.


 *Gambar diambil dari sini. Thank you.

2 comments: