Friday, 22 March 2013

Pasca Putus Cinta

Butuh waktu untuk mengerti dan menerima bahwa mengakhiri hubungan adalah jalan yang terbaik. Kehilangan, memang nggak pernah gampang. Melupakan, sulit untuk mereka yang masih menyayangi. Sendirian, terlalu pedih karena mereka belum rela ditinggalkan. Move on hanya ada di angan-angan. Jauh banget sampe rasanya nggak mungkin tergapai.

J

Tahapan dari mulai patah hati sampai akhirnya bisa survive dan move on memang nggak mudah. Siapapun yang pernah mengalami pasti setuju. Masa-masa di mana elo harus berteman sama seluruh perasaan nggak enak yang ada di muka bumi, such as tidak diinginkan, tidak diharapkan, dibuang, tidak dicintai, nggak cukup baik, nggak cukup oke, sendirian dan seratus pikiran negatif lain tentang diri lo yang malahan makin membawa lo semakin dalam masuk ke lumpur hisap. Kehancuran total.



In my opinion, patah hati itu, bukan hanya bicara tentang kehilangan. Ia juga bicara tentang rusaknya gambar diri yang disebabkan karena kehilangan itu. Yap. Itu menjadi krusial, tapi selama ini orang-orang berfikir, kalo yg penting adalah kehilangannya. Menurut gue sebaliknya.

Lo nggak perlu ribet-ribet memaksa dia untuk keluar dari kepala lo. Percuma J

Pikiran nggak bisa diatur semau lo kalo kasusnya udah masalah hati. Nyeret dia keluar dari hati lo? Even worse. Kalo gampang, nggak akan ada orang yang bunuh diri karena patah hati.

Ketika lo gagal melakukan kedua hal yang gue sebutkan di atas, lo akan semakin terpuruk. Lo akan ngerasa semakin nggak punya harapan. Semakin nggak bisa keluar. Semakin sendirian. L

Sebaliknya, kesampingkan dulu dia. Yang lebih utama untuk dilakukan adalah memulihkan gambar diri lo. Fokus sama diri lo sendiri dulu. Singkirin sebentar penyebabnya, dan sederet faktor di belakangnya. Kekeuh nyari-nyari main factor yang bikin elo gagal itu nggak akan menyelesaikan masalah. Mari fokus mencari solusinya. Fokus untuk menyembuhkan diri lo sendiri, dengan cara yang benar.

“There’s nothing wrong with you. You both just aren’t meant to be together.”

Jangan nyalahin diri lo terus-terusan. Beban yang lagi ditanggung udah cukup berat, dan nggak perlu ditambahin lagi. Terima aja, kalau memang ada hal-hal yang nggak bisa kita atur sesuai dengan kemauan kita di luar sana, suka atau tidak. Sekarang, lo bisa protes sama Tuhan, atau takdir (terserah lo percaya yang mana), tapi suatu hari nanti, mereka akan kasih tau elo alasannya. Nggak sekarang. Tapi percayalah, someday you’ll know why it didn’t work before. J

“You’ll be fine. Maybe not now, but eventually.”

Time heals most of things, including heart, I believe. Hanya saja, perlu waktu, dan kesempatan. Waktu akan bertanya sama lo, mau kah lo bersabar? Setelah lo menjawab iya untuk pertanyaan yang pertama, ia akan menanyakan pertanyaan yang kedua, which is, mau kah lo memberi kesempatan? Maksud gue kesempatan di sini adalah, untuk sembuh, bagi sebagian orang, sendirian itu perlu. Bukan, bukan bertapa di bawah air terjun, tapi nggak perlu mencobai diri lo dengan sengaja ngedeketin sumber rasa sakit lo. Ambil jarak sejauh mungkin. Hindari semampu yang elo bisa. Lo belum kuat, percayalah. Jadi nggak usah sok-sok yakin untuk tetep keep connected. Hanya akan membawa lo mengulang semua fase dari awal. Hanya akan menumbuhkan harapan yang udah jelas-jelas nggak ada. Mungkin kok, temenan lagi setelah putus. Tapi nggak ada yang prosesnya langsung. Kalo elo masih mau deket-deket dia dengan dalih jadi temen, ya lain lagi.

“You aren’t alone.”

Di luar sana, termasuk gue, banyak yang pernah dan sedang mengalami hal ini. Jadi nggak cuma elo kok yang paling menderita-nelangsa-sampe-mau-bunuh-diri di dunia yang besar ini. Mereka yang berhasil, juga banyak. Mereka yang keluar hidup-hidup (dan jadi lebih dewasa) setelah masa pahit pasca putus berhasil dilewati juga ada. Banyak. Kalo saat ini elo ngerasa nggak punya harapan, lo ngerasa lo gak bisa, gak mampu, gak sanggup karena terlalu berat, di luar sana, mereka ada untuk jadi semangat dan teladan, kalo hal yang lo pikir mustahil ini sebenernya ada kok jalan keluarnya. Lo nggak akan terpuruk selamanya.

Karena perang melawan patah hati adalah perang yang tidak mungkin dimenangkan. Tidak dalam waktu dekat. (Esti Kinasih)

Lo ada dalam tahap persiapan untuk melakukan perang. Perang melawan hati yang patah. Perang melawan setiap pikiran negatif yang tersisa. Karenanya, elo harus mengumpulkan pasukan, dan pasukan elo yang terutama dan satu-satunya hanyalah diri lo sendiri. J

Berdamailah dengan diri lo. Maafkan kesalahannya. Terima dia dengan segala kejatuhannya. Dengan begitu, akan lebih mudah untuk bangkit, walaupun masih sambil menangis. Akan lebih mudah ikhlas, walaupun masih terasa sakit. Akan lebih mudah menerima, walaupun yang terjadi nggak seperti yang lo pinta.

Ketika lo berhasil memenangkan perang ini, elo akan menemukan diri lo, jauh, jauh lebih dewasa dan siap untuk menghadapi kehidupan. Mengubah yang bisa lo usahakan untuk ubah, menerima apa yang nggak bisa lo ubah, dan kebijakkan untuk membedakan keduanya.

Move on, seperti yang pernah gue bilang sebelumnya, adalah sebuah kata kerja. Perlu usaha. Nggak effortless dan terjadi begitu saja. Enggak. Sulit memang. Tapi bukan mustahil. Dengan kata lain, susah… tapi (pasti) bisa.

Gue, adalah wujud nyata manusia yang berhasil melewati proses pembentukkan kembali hati yang patah (yang nggak sekedar patah, sekalian berdarah, bernanah, hancur rata sama tanah). Jauh sebelum gue akhirnya ketemu dengan dia yang Tuhan ciptakan buat gue.

Karena gue pribadi, mengartikan move on sebagai usaha gue untuk mengosongkan hati dan menyiapkan diri untuk cinta baru yang muncul di kehidupan gue nanti, bukan memaksa seseorang untuk membetulkan hati kita yang patah karena seseorang di masa lalu. J

Gue nulis tulisan ini, karena seorang sahabat yang sangat gue sayangi, beberapa waktu yang lalu bbm gue. Isinya singkat, ia hanya berterima kasih untuk beberapa pengalaman yang gue bagi di blog ini. Sederhana. Ungkapan terima kasih. Karena dia ngerasa nggak sendirian. Karena dia ngerasa dibantu. Entah bagian mananya yang punya kekuatan untuk membantu. Gue nggak tau. Satu hal yang gue sadari waktu baca BBM dia, perasaan kalo tulisan gue bermanfaat dan berguna bagi orang lain jauh lebih membahagiakan ketimbang pujian tentang tulisan yang bagus. I couldn’t help myself, but crying.

Dari situ, untuk kalian yang mungkin membaca, untuk kalian yang mungkin sedang frustasi karena patah hati, untuk kalian yang ngerasa udah nggak ada jalan, untuk kalian yang lagi ngerasa putus asa, gue persembahkan tulisan ini. Cara-cara ini membantu gue untuk survive, and I do hope it will work for your problem, too. J

Pesen gue cuma dua.

Satu, kalo elo belum yakin, belum siap, belum mau (BUKAN BELUM BISA YA), nggak usah maksain cepet-cepet melangkah. Terkadang di dalam kesedihan, lo banyak belajar kok. Ada waktunya, akan ada momennya di mana elo bilang, enough, I want to move. Nah barulah, elo bangkit berdiri, dan mulai berlari. J

Dua, jangan nengok ke belakang. Mata lo ditaro di depan, dan ada alasan di balik itu. So, lihat ke depan. Fokusin diri sama tujuan elo untuk sembuh. Terusin perjalanan lo. Don’t waste your time looking back. Hanya akan membuat elo pada akhirnya mau kembali ke belakang, dan semua yang sudah lo lakukan akan sia-sia.

Terakhir, move on itu masalah keputusan. Bukan bisa atau nggak bisa, tapi mau atau enggak mau. Bukan masalah susah atau gampang, tapi niat atau enggak.

Kalo niat dan mau… BISA. J *peluk*




Mampir ke sini deh: click! Yes, you're welcome :)

*gambar diambil dari sini dan sini, terima kasih :)

4 comments:

  1. move on gue akuin emang susah karena didunia ini pasti setiap orang bakal mengingatnya lagi kecuali kalo udah meninggal baru bisa move on selamanya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapi bisa kok mas, bukan melupakan, tapi mengikhlaskan :)

      Makasih sudah mampir yaa! :D

      Delete
  2. Sarah, terimakasih.. Trully from the deepest of my heart. Blogmu menyenangkan, khusus untuk postingan yang ini, mungkin akan sering saya kunjungi (hingga saya siap "berlari" lagi). Terimakasih :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku yang harusnya bilang terima kasih :")

      Tanpa kamu, blog aku cuma jadi sampah di dunia maya :")

      aaah :") kamu pasti bisa! Semangat ya :")

      Delete