Wednesday, 13 March 2013

Mengapa Kami Berbeda (,) Tuhan? - Wacana Tak Bermakna

Hubungan lintas agama dan kepercayaan. Bukan hal baru yang terdengar, bukan hal asing untuk dilakukan. Padahal berat. Banyak yang harus dikorbankan, banyak yang harus disembunyikan. Tapi ketika cinta terlanjur datang, manusia bisa apa?

Terkadang, hati tidak mampu lagi berkata ‘tidak’ dan dengan sukarela memasuki sebuah ruangan dengan label ‘hubungan’ yang mana suatu saat nanti akan meledak, seperti halnya bom waktu. Tinggal menunggu. Tinggal menanti waktu. Sama-sama tahu akan hancur. Namun memutuskan untuk maju, hanya untuk momen-momen yang bisa dilewati bersama. Meskipun sebentar. Meskipun mengetahui kesudahannya tetap akan datang. Harus terpisahkan, karena hal-hal melekat sejak lahir dan diciptakan.


Sebagian hanya rely on dengan, “jalanin aja dulu…”. Sebagian lagi bertahan dengan sisa kekuatan yang ada. Hanya untuk sebuah harapan. Harapan akan bangun di pagi hari, dan semuanya berubah sesuai dengan keinginan. Harapan untuk sebuah penyerahan. Harapan untuk diterima oleh keluarga. Harapan untuk tidak lagi harus menjembatani perbedaan. Hal-hal yang mustahil untuk terjadi, jika tidak diimbangi dengan tindakan, beserta konsekuensi yang begitu besar mengikat.

Pilihan antara keluarga, atau pasangan. Pilihan antara mengalah atau mengalahkan. Pilihan antara hidup tenang, atau terus berbohong demi mempertahankan keadaan. Pilihan untuk berjuang, atau menyerah karena tidak akan ada gunanya jika diteruskan. Pilihan untuk tetap tinggal dengan segala konsekuensi yang ada, atau pergi dengan segala sakit hati yang diakibatkannya.

Yes, there’s no Grey area.
You, somehow have to pick and make a decision.

Pilihan yang selanjutnya akan membuahkan keputusan, tentang jalan mana yang akan ditempuh. Tentang tindakan apa yang akan diambil. Tentang bagaimana menjelaskan semuanya. Terutama tentang bagaimana cara menyembuhkan hati yang terlanjur terluka.

Simalakama. Karena pilihan apapun yang kamu akhirnya putuskan, akan berakhir menyakitkan.

When you’re too tired to hold on, and too in love to let go.

Menunggu salah satu menyerah. Menunggu keluarnya keputusan menyakitkan untuk berpisah. Menunggu kamu yang mengambil jalan untuk pergi sekarang, atau menunggu waktu yang memisahkan cepat atau lambat.

Dua-duanya menyakitkan, hanya tinggal masalah kapan. Dua-duanya berakhir kehilangan, kecuali pada akhirnya salah satunya mengalah karena terlalu lelah.

Eventually, one of those things will happen.

So, you have to decide.
Now, or later?

*gambar diambil dari sini

No comments:

Post a Comment