Monday, 18 February 2013

#SarahMasukDapur

Hashtag atau tagar itu gue resmikan karena dapur musuh besar buat gue. Tapi semenjak hari Valentine tahun lalu, gue mencoba untuk melakukan perjanjian damai :3

Karena sebuah alasan sederhana, gue mau coklat yang gue kasih untuk pacar, bukan produk dari swalayan atau mini market. Iya sih, bahannya tetep gue beli di sana, tapi gue mau at least bentuknya berubah. Tanggal 12 Februari yang lalu, tagar itu muncul di timeline twitter gue. Gue bangun pagi-pagi, mencari coklat kemudian melelehkannya, menggunakannya sebagai perekat 5 keping koko crunch yang kemudian gue susun dalam toples cantik dengan pita biru. Sederhana. Bukan merendah, tapi memang hanya itu yang gue bisa.

Tanggal 14 Februari-nya, ketika gue memberikan cemilan sederhana itu ke sang pacar, respon yang gue terima, honestly, membuat gue terharu. Nggak susah sama sekali buatnya. Gue dibantu sama mama dan asisten rumah tangga kami. Nggak ada kecelakaan yang berarti, kecuali jari-jari gue beberapa kali tersiram lelehan cokelat panas. Tapi si pacar, mencium ubun-ubun gue lamaaaaa banget sambil mengucapkan terima kasih yang paling manis yang pernah gue dengar. It was amazing seeing his smile, it was amazing knowing he loved it, he loved cemilan sederhana yang rasanya kalo gue ajarin pun dia bisa bikin sendiri di rumahnya :”)

Setelah Valentine selesai, gue jadi bertekad untuk belajar masak. Simply because gue ketagihan liat senyumnya. Dan karena dia suka banget makan :D

Makanan favorit dia (seperti Cina pada umumnya :P) adalah apa saja yang diolah dari babi. Yang terlintas di otak gue adalah sebuah olahan dengan bahan dasar daging babi yang selama ini hanya bisa dimasak oleh oma gue, namanya ‘nyuk pyang’ (ini tulisannya salah, tapi bacanya kaya gini :P). Jadilah gue minta resep untuk membuat makanan ini. Sempet takut kesulitan waktu membuat, karena oma gue (seperti pada umumnya orang jaman dahulu), nggak pernah mengukur lada, kecap, garam, atau vetsin. Ilmu kira-kira dan feeling mereka sudah terasah sehingga ukuran nggak lagi diperlukan.

Tapi akhirnya, gue memutuskan untuk mencoba. Sebelum berangkat ke kantor dan ke kampus, gue titip pesen sama mama untuk membeli daging babi yang sudah dicincang dan sayur asin satu ikat.

Sepulangnya dari kampus, gue bersiap-siap untuk masak. Diawasi mama, gue mulai memotong sayur asin tipis-tipis, setelah sebelumnya mencucinya di air yang mengalir. Masih gampang, pikir gue. Setelah sayur asin selesai dipotong, gue mulai mengeluarkan daging babi mentah dari kantong plastik. Sebentar, gue terdiam. Detik berikutnya, mati-matian menahan gejolak di perut. Inilah yang menjadi penyebab selama ini gue musuhan sama dapur. Gue gampang banget mual L 

Setelahnya, gue lari ke kamar, mengambil masker spongebob yang biasanya menjadi teman kalo lagi naik sepeda motor ke kampus atau kantor. Dengan menggunakan masker, sedikit banyak gue berharap bau dagingnya jadi nggak menusuk banget.

Daging babi kemudian gue aduk dengan menggunakan sagu. Mengaduknya harus pake tangan. Nggak boleh pake sendok. Jangan tanya gimana rasanya K Kemudian, gue tambahkan garam, lada, vetsin, dan kecap asin. Dengan ilmu kira-kira, dan gabungan feeling mama. Kalo gagal, coba lagi lah sampe pas :P

Setelah merata, bagian terakhir adalah gue harus menambahkan telur dalam adonan daging mentah itu. Gonna let you know, telur dan daging babi mentah itu maha dasyat amisnya. Masker yang gue pake, jadi kaya nggak guna. Belum lagi, adonan itu harus gue bejek-bejek (bahasa apa ini? :D) sampe rata. Sampe nggak lengket di tangan, dan prosesnya kira-kira 10 menitan, karena telurnyaa harus tercampur dan rata dalam adonan.

Yay! Adonan dagingnya selesai! :D

Lega berpisah dengan adonan itu, sekarang gue beralih ke penggorengan, dan mengoseng-oseng (bahasa apa lagi ini?) sayur asin yang sudah terpotong-potong. Kemudian, sayur asin yang telah dioseng-oseng tersebut diletakan pada wadah stainless, dan ditutup dengan adonan daging tadi. Beres deh! Tinggal dikukus kira-kira 30 menit. :D

Hihihi.

Norak ya? Masaknya begitu doang padahal. Sempet diketawain gara-gara masker spongebob, lelucon “babinya nggak mau dioperasi kok, kan udah mati :D” terucap keluar dan mengurai tawa.


Perasaan lain yang gue rasakan, adalah rasa puas. Senang rasanya belajar sesuatu yang baru. Terlebih mengetahui akan ada yang tersenyum setelah seluruhnya rampung, dan menjadikannya masakan sederhana dengan rasa yang luar biasa, karena punya cerita di dalamnya.

Mualnya hilang, berganti rasa penasaran akan bagaimana rasa masakan gue yang pertama ini. Harap-harap cemas nih. Masih dikukus soalnya.

Nyuk Pyang!



















Enak! :9

No comments:

Post a Comment