Thursday, 28 February 2013

10 Jawaban Mengapa Ia Sempurna (Untukku)

1. Karena ia bisa tertawa bersamaku. Kami jadi dekat, karena berbagi tawa dan canda. Percayalah, orang-orang dengan selera humor yang berbeda itu ada. Dan coba bayangkan betapa bosannya menghabiskan waktu bersama salah satu dari mereka. Saat menurutmu suatu kejadian sangatlah lucu, menurutnya itu terlalu baku untuk ditertawakan. Saat menurutnya suatu keadaan menggelitik untuk menjadi bahan canda, kamu merasa hal tersebut biasa saja. Sedangkan pada setiap kesempatan, tertawa berdua, tentu saja menjadi hal yang menyenangkan. Kalau istilah stand up-nya, kesamaan referensi (yang kemudian berlanjut mengkaitkan dua hati).

“Kalau bisa menertawakan hal yang sama, orang kemudian berteman. Bahkan pada beberapa kesempatan; menjadi pasangan hidup.” –Gamila Arief

2. Karena ia menghargai setiap ungkapan kasih sayang yang kuekspresikan lewat tindakan, cerita, benda, ataupun kata, tidak peduli betapapun itu sederhana. Ingat coklat Valentine tak berbentuk? Atau… kedatanganku ke kantornya yang hanya berjarak dua-puluh-lima-ribu dengan taksi dari rumahku, hanya untuk menemaninya makan siang, dan bagaimana berterimakasihnya ia untuk hal kecil yang kulakukan. Dihargai itu menyenangkan. Untuk kami para wanita, malah cenderung sebuah kebutuhan.

3. Karena ia mengembalikan waktu-waktu di mana aku menikmati menuangkan rasa, dan cinta melalui tulisan dan kata-kata. Sebuah cara yang sempat aku lupakan pernah ada, saat kesibukan mulai menyapa. Ia mengingatkanku tentang rasa bahagia berbagi melalui cerita, wacana, atau sekedar catatan yang tak terlalu bermakna. Ia menjadi inspirasi berbagai puisi, tokoh utama dalam berbagai cerita. Ia juga menjadi teladan untuk sebuah cita-cita yang (masih) kusimpan jauh di sudut hati.

4. Karena ia selalu bisa membuatku merasa nyaman untuk mengutarakan apa saja, termasuk pikiran-pikiran aneh yang belakangan suka bermain di kepala, ‘what if(s)’ yang cenderung negatif, skenario yang kubuat berdasarkan asumsi sendiri, dan kupertahankan sebagai konsumsi pribadi yang akhirnya menyiksa diri. Ia datang, meyakinkanku untuk berbagi bersamanya, bahkan termasuk ketakutan yang tak perlu ada karena hanya berasal dari pikiran kacau dan hipotesa tanpa dasar, kemudian berusaha menenangkan dan meyakinkan semua akan berjalan baik-baik saja.

5. Karena ia pendengar yang sabar, sedangkan aku si bawel yang pintar (enggak deng, ini cuma biar bernada aja, tapi boleh banget loh kalo ada yang percaya :P). Coba bayangkan bagaimana aku yang suka berbicara sepanjang waktu, jika digariskan oleh Tuhan dengan seseorang yang (juga) senang bercerita setiap kali kami bertemu. Bisa-bisa dalam setiap pertemuan, kami hanya bertengkar untuk menentukan siapa yang akan bicara lebih dulu. L

6. Karena ia (selalu) membimbing dan menjagaku. Berjalan di sisi luar ruas trotar, menggandeng ketika menyebrang, menawarkan bahu sebagai tumpuan ketika bidang yang kuinjak landai, memaksaku mengenakan jaketnya ketika rintik hujan mulai menyapa mengganti surya. Romantis yang bukan hanya manis, tetapi juga sepenuhnya berlandaskan tidak inginnya sesuatu yang buruk menimpa, atau melihatku terluka karena lepas dari perhatiannya.

7. Karena ia (selalu) mengerti. Mengerti betapa bisa menyebalkannya aku sewaktu-waktu. Mengerti bagaimana aku suka menutupi rasa rindu, tapi ingin ia selalu tahu. Mengerti betapa aku moody dan sulit ditebak saat ada dalam ‘masanya’. Mengerti kondisiku, bagaimanapun buruknya. Mengerti kalau pada beberapa waktu, aku tidak ingin dimarahi atau ditemani. Mengerti kalau aku mudah cemburu dan di saat yang sama, rendah diri. Mengerti kalau aku hanya ingin didengarkan dalam kondisi tertekan karena pekerjaan. Mengerti bahwa terkadang bukan kata-kata atau nasihat yang aku butuhkan, melainkan hanya pelukan untuk meyakinkan aku tidak sendirian.
Darinya, aku belajar menekan keegoisan. Belajar berhenti mempermasalahkan hal-hal kecil yang tidak seharusnya menjadi penyebab diam yang panjang, atau sumber perdebatan. Dan terlebih, belajar memahami alasan di balik sebuah tindakan.

“Cinta itu buta.”
“Tidak, ia tidak buta. Ia mengetahui, tapi selalu mengerti.”
(Sumbernya dari sebuah film tapi lupa apa judulnya – diedit sesuai kebutuhan.)

8. Karena ia seorang yang dekat dengan keluarga dan orang tua, tidak jauh berbeda denganku. Ketimbang menghabiskan waktu di mall sia-sia, kami memilih bercengkrama bersama keluarga. Ketimbang duduk-duduk di restoran mahal, kami memilih di rumah untuk makan malam. Ketimbang nongkrong di warung kopi, kami memilih di teras menunggu terbenamnya matahari. Ketimbang pacaran berdua, kami memilih family gathering dan berkumpul dengan saudara. Ketimbang bercerita dengan teman-teman, kami memilih mama-papa untuk memberi masukkan. Kami belajar menjalani sebuah hubungan, dari mereka yang patut dijadikan teladan.

9. Karena ia tidak pernah mengeluh, walaupun memiliki seribu alasan untuk melakukan itu. Percayalah, tidak mudah pacaran dengan seorang Sarah. (Percaya aja, karena nggak bisa dicoba juga :P Udah percaya aja yaaa.)

Ia rela menjemput ke rumahku, kemudian ke rumahnya untuk makan malam, dan mengantarku pulang ke rumah setelah selesai, lalu kembali ke rumahnya sambil menahan kantuk seorang diri *). Senen-Fatmawati. Bukan jarak yang dekat, dan kalau ditempuh dengan berjalan kaki pasti mati L. Atau bermacet ria menjemputku di kampus, dan tidak menolak dengan segala alibi ketika harus mengulangi untuk yang kedua kali. Ia bisa saja mengeluh dan menumpahkan kesal, tetapi memilih mengecup ujung kepalaku dan berterimakasih untuk jam-jam yang telah lewat ketika kebersamaan kami harus usai.


*) Jauh lebih romantis daripada bunga dan cokelat. –romeogadungan.com/dear-ladies

10. Yang terpenting: Karena ia, seorang Roy Saputra. J

At the end, find the one who’s going to make your life perfect, because he’s perfect for you. Not for every girls, not for another(s). But only for YOU.

Kamu tidak perlu mencari yang sempurna, karena mereka yang sempurna, hanya hidup di lembaran buku dan layar kaca. Carilah ia yang mampu menyempurnakan potongan hati dan jiwamu. Mengerti karaktermu. Memahami bahasa dan tawamu.

Karena ketika kamu telah bersama ia yang tepat, kamu akan menyadari, ia adalah potongan yang diciptakan untuk melengkapi potongan hatimu. Seperti potongan puzzle, ia akan menganga jika dipaksakan melekat pada potongan puzzle yang bukan pasangannya, karena berada di tempat yang tidak seharusnya. Tapi di sisi potongannya, ia tidak lagi menyisakan rongga karena menempel paksa, namun melengkapi bentuk dengan sempurna karena memang tercipta untuk bersama. And they’ll be simply perfect for each other. Not because both of them are perfect, but because in love, imperfect meets imperfect equals to perfect.




“Because perfect guys don’t exist, but there’s always one guy, that is perfect for you.”
-Bob Marley

Thank you for 27 beautiful days that has passed. Thanks for the new definition of ‘perfect’. It’s you AND me. It’s US J

2 comments:

  1. Romantis sekali ternyata bang Roy ini. Hahaha

    *blogwalking*

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha he is :)

      mampir sini lagi boleh lhoooo kalo lagi blog walking :P

      Makasih yaaa :D

      Delete