Tuesday, 22 January 2013

The Untold Story - Cerita Pendek

Aku berjalan memasuki stasiun MRT yang akan memulangkanku kembali ke hotel. Sambil bernyanyi kecil, aku melangkahkan kakiku, mendekati bangku-bangku tempat orang-orang duduk dan menunggu kereta mereka. Saat itu, stasiun sudah bebas dari desakan orang-orang berdasi sepulangnya mereka dari perkantoran.

Mataku menangkap ia yang sedang duduk, menatap kebawah. Aku memiringkan kepala, mencoba mencari tahu seperti apa wajahnya, karena topi jaketnya terpasang menutupi hampir 3/4 kepalanya. Aku berjalan ke arah tempat dimana ia duduk. Kemudian meletakan tubuhku, lebih kurang setengah meter dari tempatnya.

Ia masih tidak bergeming. Serius dengan lamunannya, sampai keningnya berkerut, seperti menahan sakit. Aku memperhatikannya dari sudut mataku, mencoba menerka apa yang menyiksanya. Terlukakah kakinya? Mataku tertuju pada sandal hitam yang ia gunakan. Ah, mukanya terlihat lelah.


"Oke Ya, gue tunggu di sini aja."


Aku tersentak. Lho, dia orang Indonesia!


Barusan sepertinya ia berbicara pada temannya, menggunakan bahasa yang tiga hari belakangan tidak pernah kudengar. Aku memperhatikan ranselnya, yang sedari tadi luput dari perhatian. Akan pulangkah ia? Atau baru saja datang? Mungkin akan pulang, mungkin ia akan berpisah dengan kota menyenangkan dan tertib ini, makanya ia terlihat sedih...


"Who are you?"


Aku hampir terlompat kaget. Memaksakan sepotong senyum, berharap dapat menghapus tanda tanya dikepalanya, ketika mendapatiku memperhatikan tasnya lekat-lekat.


"Who are you?" Ulangnya.


"Saya bukan pencuri." Jawabku.


Kerut dikeningnya mengendur. Mungkin karena mendengar bahasa yang kugunakan.


"Kok ngeliatin saya dari tadi?"


Wah! Dia sadar, kirain, sedari tadi konsentrasinya tumplek blek untuk melamun.


"Kamu kelihatan sedih, sudah mau kembali ke Indonesia ya?" tanyaku.


Ia menggeleng. Mendung kembali menghiasi wajahnya. Aku jadi ikut terdiam, merasa salah melontarkan pertanyaan.


"Saya justru sedang berlari. Saya kesini untuk mengambil sebuah keputusan berat, melupakan seseorang."

"When you lose something you can't replace..."

Aku terdiam. Putus cinta rupanya. Itulah alasan mengapa kepedihan tergambar jelas dalam raut wajahnya. Pasti perempuan yang sangat disayanginya, yang menjadi alasannya menyepi, mengusir pedih.

"When you love someone but it goes to waste..."

"Could it be worse?"

"Kamu pasti sembuh dari kesakitan itu. Karena laki-laki, takdirnya adalah menjaga. Menjaga perempuan yang nantinya Tuhan titipkan padamu, dan sebelum itu, Ia ingin membuatmu kuat menjaga dirimu sendiri." jawabku, tersenyum.

"Lights will guide you home..."

Ia mencerna ucapanku, masih terlihat berfikir. Monitor menunjukkan, kereta yang akan membawaku pulang, beberapa detik lagi sampai.

"and ignite your bones..."

"Saya duluan." Pamitku sopan.

"Mau kemana?" Tanyanya.

"Pulang." Jawabku.


Ia terlihat mencari sosok temannya, namun karena belum kembali, akhirnya memutuskan pasrah menunggu kereta berikutnya.


"Ketika takdir mempertemukan kita lagi, saya benar-benar berharap akan melihat senyummu yang hilang." Ujarku sambil berjalan masuk ke arah kereta. Ia masih mematung di tempatnya duduk.

"Namamu?"


Pintu kereta tertutup.

"and I'll try... to fix you."




*fiksi
*Fix You - Cold Play

No comments:

Post a Comment